Sabtu, 1 Mei 2010 21:55 WIB Hukum,Sukoharjo Share :

Perampok tembak polisi, tujuh saksi diperiksa

Sukoharjo (Espos)–Pascaperampokan dengan senjata api (Senpi) yang terjadi di Toko Emas Hendra, Nguter, Jumat (30/4) lalu dan menyebabkan anggota polisi tertembak, jajaran Polres Sukoharjo kini telah memeriksa tujuh orang saksi.

Sementara itu berdasar keterangan tim dokter dari Rumah Sakit (RS) dr Oen Solo Baru, proyektil yang bersarang di tubuh Kanit Intelkam Polsek Nguter Aiptu Supriyono yang menjadi korban penembakan, sudah bisa diangkat.

Pengangkatan peluru tersebut berlangsung dalam operasi yang dilakukan sejumlah dokter pada Jumat malam mulai pukul 21.00 WIB hingga sekitar pukul 23.00 WIB. Saat ini, proyektil dikirim ke Polda untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Direktur Medis RS dr Oen Solo Baru, dr Soehardi M Kes mengatakan, operasi pengangkatan peluru di tubuh Aiptu Supriyono sudah dilakukan dan berhasil. “Operasi mulai dilakukan Jumat malam sekitar pukul 21.00 WIB dengan melakukan pembedahan hingga di saluran pencernaan,” jelasnya ketika dijumpai wartawan, Sabtu (1/5).

Dalam operasi singkat dua hari lalu, Soehardi menjelaskan, pihak RS telah mengerahkan beberapa dokter. “Ada dua sampai tiga dokter yang terlibat dalam operasi kemarin. Selain mereka, ada juga dokter-dokter yang yang disiagakan untuk membantu,” tandasnya.

Disinggung mengenai kondisi terakhir pasien, Soehardi menjawab, tidak perlu dicemaskan. Menurut dia, keadaan fisik Supriyono termasuk baik dan pasien tersebut sangat kooperatif dalam pemeriksaan. “Sampai sekarang dia juga masih sadar,” imbuhnya.

Dijumpai terpisah, Kapolres Sukoharjo, AKBP Suharyono menjelaskan, sampai saat ini ada tujuh orang yang diperiksa sebagai saksi dalam peristiwa perampokan Jumat lalu. Namun demikian, untuk pelaku hingga sekarang belum ditemukan.

Dalam rangka menemukan pelaku, Suharyono menjelaskan, saat ini pihaknya sudah menyebar sketsa yang diduga wajah pelaku perampokan. Meski begitu diakuinya sketsa tersebut memang masih beredar di kalangan internal kepolisian, belum sampai keluar ke publik. Alasan belum disebarkannya sketsa tersebut ke masyarakat lantaran kepolisian masih terus melakukan detil penyelidikan.

Lebih lanjut mengenai peluru, Suharyono menjelaskan, pihaknya belum bisa memastikan jenisnya, apakah dari timah atau timbel. Sebab, contoh peluru kini masih diperiksa di Labfor Polda Jateng.

Suharyono menjelaskan, dalam olah tempat kejadian perkara (TKP) yang digelar Jumat siang, polisi belum bisa menemukan selongsong peluru. Ada beberapa dugaan mengenainya di mana selongsong peluru bisa jadi masih di dalam senjata atau bisa juga dibawa pelaku.

aps

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…