Rabu, 28 April 2010 20:15 WIB Sragen Share :

Ritual cembrengan menjelang giling tebu

Pabrik iki openono, sanajan ora nyugihi,nanging nguripi.

Demikian pesan singkat Mangkunegoro IV yang tertulis di depan pintu gerbang Pabrik Modjo Sragen. Pesan tersebut masih melekat dan menjiwai para pegawai pengelola Pabrik Modjo yang berdiri sejak tahun 1883 lalu. Buktinya, pabrik tersebut masih berdiri megah dengan aktivitas penggilingan tebu rutin tahunan hingga sekarang. Tradisi penggilingan tebu menjadi pusat perhatian masyarakat Bumi Sukowati.

Bagaimana tidak? Sejak dua pekan lalu, kompleks Pabrik Modjo yang dikelola PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX itu menjadi pusat kerumunan pedagang dari berbagai daerah. Orang Sragen menyebut aktivitas perdagangan itu sebagai cebrengan. Istilah cebrengan itu merupakan sebutan aktivitas penggilingan tebu di setiap pabrik gula, termasuk di Pabrik Modjo.

Puncak ritual cembrengan digelar Rabu (28/4) sore. Berbagai hiasan dekorasi dari daun kelapa yang masih muda terpasang di hampir setiap pintu masuk pabrik. Terutama di pintu utama pabrik. Tidak hanya janur, dekorasi itu juga dilengkapi dengan pohon pisang yang baru berbuah muda.

Tampak dari kejauhan iring-iringan warga membawa <I>uborampe<I> makanan tradisional. Mereka berjalan mendekat dan masuk ke dalam pabrik. Empat orang di antaranya, membawa barang yang cukup berat dengan menggunakan tandu kecil.

Apa gerangan isi tandu itu? Setelah dibuka, ternyata sebuah kepala kerbau yang masih segar dengan hiasan janur. Dalam tradisi Pabrik Modjo, kepala kerbau menjadi syarat utama sesaji sebelum penggilingan tebu dilaksanakan. Entah darimana tradisi turun temurun ini diciptakan, tak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Mandor Pabrik Modjo, Sukamto, 54, pun mengaku tidak mengetahui. Dia hanya meneruskan tradisi para pendahulu. ”Sejak kapan sesaji itu tidak dilakukan, lha saya tidak tahu. Tapi sudah menjadi kebiasaan kami. Semua sesaji itu diberi doa sebelum diserahterimakan kepada orang yang menjalankan aktivitas penggilingan,” ujarnya.

Setidaknya ada empat sesaji yang disiapkan Sukamto. Di antaranya sesaji cerobong, sesaji giling, rasulan. Selain memberikan sesaji di tempat-tempat tertentu, ritual penggilingan tebu itu juga dilanjutkan dengan tabur bunga di tiga makam pepunden. Tiga makam danyang Pabrik Modjo itu di antaranya, makam Mbah Paleh, Mbah Panji dan Mbah Krandah. ”Tabur bunga itu dilakukan dengan menaiki kereta berkeliling di kompleks Pabrik Modjo,” celetuk Sukamto.

trh

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…