Rabu, 28 April 2010 20:22 WIB Solo Share :

Aksi "lawan" genangan, 2011 Solo canangkan tahun drinase

Solo (Espos)–Tahun 2010, bakal dicanangkan sebagai tahun drainase. Pencanangan dibarengi dengan perbaikan total kondisi drainase di Kota Bengawan, pengedukan sedimen di beberapa titik drainase dan pembuatan kantung peresapan air di jalan-jalan kampung.

Wakil Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo (Rudy), saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (28/4), mengakui banjir dan genangan air menjadi persoalan yang belum tuntas diselesaikan selama hampir satu periode dia dan walikota Joko Widodo (Jokowi) memimpin Solo. Di tahun 2011, persoalan tersebut dipastikannya menjadi prioritas untuk diselesaikan.

“Pencanangan 2011 sebagai tahun drainase, lebih pada penanganan khusus drainase. Kita butuh pengedukan sedimen. Di sepanjang Jl Slamet Riyadi itu ada drainase setinggi 3-4 meter, sekarang hanya tersisa setinggi 50 sentimeter untuk lewat air, karena banyaknya sedimen,” papar Rudy.

Selain pengedukan sedimen, Rudy juga menyebut perlunya dibuat kantung peresapan air di sisi kanan dan kiri sepanjang jalan kampung. Kantung resapan tersebut berupa lubang sedalam 4 meter di tanah yang diisi batu dan ijuk, untuk peresapan air. Dengan cara tersebut, air hujan yang mengalir langsung sebagai air permukaan dapat dikurangi, sehingga genangan air pun berkurang.

Disinggung mengenai anggaran untuk penanganan banjir dan genangan air, Rudy mengatakan untuk saat ini Pemkot Solo memang belum mendapat kepastian anggaran. Namun, sejauh ini, dia berusaha mengajukan usulan anggaran ke pemerintah pusat. Soal anggaran, Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Budi Suharto mengakui persoalan itu menjadi kendala utama penanganan masalah drainase di Solo. Sebagai gambaran anggaran untuk pemeliharaan drainase pada 2010 hanya dipatok Rp 637 juta, dari total dana Rp 1,2 miliar untuk pengendalian banjir.

“Dengan keterbatasan anggaran, saya lebih sepakat untuk mengubah perilaku masyarakat. Bagaimana agar masyarakat ikut mengatasi persoalan drainase dengan tidak membuang sampah sembarang, tidak menutup selokan, dan sebagainya,” ungkap Budi.

tsa

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…