Senin, 26 April 2010 16:53 WIB Boyolali Share :

Puluhan warga Boyolali terserang chikungunya

Boyolali (Espos)–Serangan chikungunya di wilayah Kabupaten Boyolali mencapai puncaknya pada Maret-April 2010. Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali mencatat dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini, penyakit yang disebarkan nyamuk aides agepty itu menyerang puluhan warga di dua desa, yakni Desa Tempursari, Kecamatan Sambi dan Desa Selodoko, Kecamatan Ampel.
Sementara di Kecamatan Cepogo, belasan warga di Desa Bakulan juga terjangkit penyakit itu.
Kepala Dinkes Boyolali, Yulianto Prabowo menyebutkan kasus chikungunya di Desa Tempursari terjadi bulan Maret lalu dan menyerang sebanyak 35 warga setempat. Sementara di Desa Selodoko terjadi bulan April ini dan menyerang sebanyak 38 warga.

“Di dua desa tersebut, kasus chikungunya dinyatakan sebagai KLB (kejadian luar biasa-red) karena di wilayah tersebut belum pernah ditemukan kasus dengan jumlah penderita yang cukup banyak,” ungkap Yulianto ketika ditemui Espos di ruang kerjanya, Senin (26/4).

Dikonfirmasi terpisah, Camat Cepogo, Arif Wardianta membenarkan ada belasan warganya di Desa Bakulan yang terserang chikungunya dalam kurun waktu sebulan terakhir ini.

“Dari laporan bidan setempat, memang ada sekitar 13 warga di Desa Bakulan yang terserang chikungunya dengan gejala antara lain mengalami nyeri pada persendian dan demam mendadak. Namun untuk desa lainnya kami belum mendapat laporan dan belum menemukan kasus chikungunya,” ungkap Arif.

Dijelaskan Yulianto, kasus chikungunya di Desa Tempursari dan Desa Selodoko telah mendapatkan penanganan intensif dari tim medis Puskesmas di masing-masing wilayah. Penanganan dari Dinkes sendiri, lanjut dia, dilakukan dengan melakukan penelitian epidemiologi terhadap kasus yang ditemukan di dua desa itu.

“Dari gejala yang diderita, tercatat 94,7 persen penderita mengalami nyeri sendi,” terang Yulianto.

sry

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…