Senin, 26 April 2010 20:51 WIB Sragen Share :

Demo Sragen ricuh

Sragen (Espos)–Aksi massa Lintas menekan aparat kepolisian segera menuntaskan kasus dugaan ijazah palsu Bupati Sragen Untung Wiyono, Senin (26/4), berlangsung ricuh di depan Kantor Dinas Bupati Sragen.

Dua orang warga nyaris menjadi korban amukan massa demonstran yang kecewa dengan kinerja Polres Sragen. Mereka adalah Setu, seorang warga Sragen terkena pukulan massa dan Lucky koordinator lapangan aksi. Sementara seorang pendemo. Untung, pingsan saat merobohkan
baliho berisi sosialisasi 72 penghargaan Pemkab Sragen.

Massa datang ke depan Kantor Pemkab Sragen dari dua arah. Ratusan anggota Lingkar Kajian Kebijakan dan Strategi Perubahan Sragen (Lintas) dari arah barat dan seratusan perwakilan organisasi masyarakat (Ormas) lainnya dari arah timur. Sesampainya di perempatan Jl Raya Sukowati depan Kantor Pemda Sragen, massa dari arah timur yang membawa tongkat bambu dan kayu langsung menyerbu baliho berisi 72 penghargaan nasional.

Sejumlah aparat Brimob sempat menahan upaya perobohan baliho itu. Namun konsentrasi massa beralih mengejar sejumlah anggota Brimob sampai di depan pintu masuk sisi barat kompleks Sekretariat Daerah (Setda) Sragen. Sebuah baliho berukuran besar yang berisi sosialisasi program Pemkab Sragen di sudut barat alun-alun menjadi sasaran berikutnya. Mereka merobek baliho dan merobohkan baliho itu sampai tak tersisa.

Seorang Korlap Lucky mencoba mengarahkan massa agar tidak anarki dan merusak fasilitas publik. Kendati berulang kali mengingatkan tak dihiraukan massa. Justru sebaliknya, massa menuding Lucky menggunakan bahasa-bahasa polisi dan menyimpang dari perencanaan aksi semula. Sejumlah orang dengan tongkat langsung datang dari arah belakang dan memaksa Lucky turun panggung.

Hampir pada waktu bersamaan, seorang warga, Setu, yang tiba-tiba nongol di lokasi aksi langsung dikejar massa. Setu dikejar sampai jarak 100an meter dari lokasi aksi dan sempat terkena hantaman pukulan massa, karena Setu dituding ada di pihak Bupati.

Kondisi aksi yang semakin liar membuat aparat kepolisian gerah. Kawat berduri yang digelar mengeliling Kantor Pemda Sragen dilebarkan, sehingga mempersempit ruang gerak massa. Sekitar pukul 15.00 WIB, sebagian massa bergerak ke Mapolres Sragen untuk melakukan audiensi.
Hingga pukul 18.00 WIB, massa belum membubarkan diri, mereka berniat harus mendapatkan janji dari Kapolres Sragen. Mereka merusak pagar berduri dan pot-pot tanaman di depan Pemda.

Sementara, koordinator aksi Lingkar Kajian Kebijakan dan Strategi Perubahan Sragen (Lintas) Saiful Hidayat menilai penanganan kasus dugaan ijazah Bupati Sragen di Polres Sragen berjalan di tempat. Mereka melihat tidak ada progres perkembangan penanganan kasus tersebut. Penanganan kasus itu mestinya berjalan normatif paling lama dua bulan. Sejak laporan hingga sekarang, kata dia, waktu penanganan kasus ijazah Bupati tidak ada perkembangan.

Sementara Kapolres Sragen AKPB Drs Jawari saat dimintai konfirmasi membantah tudingan penanganan kasus dugaan ijazah Bupati yang berjalan di tempat. Kapolres mengaku penanganan kasus itu sesuai dengan prosedur normatif pernyidikan di kepolisian.  Saat Espos, menghubungi Bupati Sragen, Untung Wiyono, Ponselnya tidak aktif. Berdasarkan kabar di lingkungan Pemkab Sragen, yang bersangkutan sedang umrah.

trh

lowongan pekerjaan
EDITOR MATEMATIKA (Fulltime), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…