Senin, 26 April 2010 11:20 WIB Pilkada Share :

Baru tahu kandidat Pilkada sesaat sebelum nyoblos

Solo (Espos)–Beberapa penghuni Rutan I Solo, mengaku baru mengetahui kandidat walikota dan wakil  walikota Solo, sesaat sebelum pencoblosan berlangsung.

HN, salah satu penghuni Rutan kelas I Solo sungguh tak tahu para calon pemimpinnya. Selama meringkuk di balik jeruji penjara, warga asli Kadipiro Banjarsari itu sama sekali buta informasi, termasuk para kandidat yang tengah berlaga dalam Pilkada Solo hari ini, Senin (26/4).

Dalam batinnya, yang terasa dan terpikir ialah sebuah kerinduan mendalam akan keluarganya dan membayangkan saat-saat kepulangan dari pulau ‘pengasingan’ itu penuh hujan air mata. “Saya baru tahu setelah masuk aula. Ooo…ternyata ada dua orang yang harus saya pilih salah satunya to?” katanya saat berbincang dengan Espos.

HN bukan seorang diri yang tak tahu kandidat pemimpin Solo. MN, seorang pemuda yang meringkuk di Rutan sejak awal 2009 lalu juga tak kenal siapa calon pemimpinnya. Malahan, secara iseng saja dia melihat wajah kandidat pemimpinnya itu dalam koran bekas pembungkus nasi.
“Saat itu saya nggak kepikiran. Setelah ada petugas yang melakukan sosialisi, saya baru teringat koran bekas pembungkus nasi yang saya lihat kemarin,” katanya.

Hari pencoblosan kali itu, barangkali tak jauh berbeda dibanding hari-hari biasanya yang selalu sepi di dalam Rutan. Mereka memgaku memang mendapatkan undangan untuk mencoblos. Namun, undangan itu bagi mereka sungguh terasa hambar dan kosong. “Lha, saya itu tahunya baru satu jam setelah masuk aula untuk mencoblos. Karena, selebaran sosialisi baru ditempel tadi pagi oleh petugas ,” sahut penghuni Rutan lainnya.

Kondisi seperti ini, barangkali cukup ironis untuk pendidikan politik Kota Solo ke depan. Betapapun jumlah pemilih di Rutan itu hanya 90 orang, namun bukankah satu suara sangat berharga. Satu suara bukanlah sekedar bermakna hak untuk memilih sesuai hati nurani. Namun, juga mencerminkan relasi yang terjalin sesungguhnya antara konstituen dengan calon pemimpinnya. “Ya…ketimbang nggak nybolos, Mas. Pakewuh gitu rasanya…” kata HN.

Apa yang terlontar dari mulut HN itu barangkali mencerminkan relasi yang sesungguhnya antara pemilih di Rutan dengan yang dipilih. Mereka memilih calon pemimpinnya bukan karena pertimbangan yang masak-masak, mengenal sisi baik-buruknya, atau karena visi dan misinya. Namun, hanya karena rasa malu ketimbang tak ikut berpartisipasi dalam Pilkada. Dan pilihan warga penghuni Rutan itu sebagian besar hanya karena perasaan pakewuh itu.

asa

LOWONGAN PEKERJAAN
Tegar Transport Hotel Paragon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…