Jumat, 23 April 2010 13:42 WIB News Share :

Hah!, KPK dihadiahi 4 celana dalam warna pink

Jakarta – Segala rupa binatang mulai dari tikus hingga babi pernah diterima KPK. Namun baru kali ini KPK menerima kado berupa celana dalam pria berwarna pink dari pendemo sebagai bentuk kekesalan.

“Celana dalam sebagai simbol supaya KPK tidak banci dalam mengusut kasus korupsi di Riau. KPK harus sebagai singa atau harimau di hutan, bukan kelinci,” teriak Koordinator Aksi, Dayat, sambil memberikan empat celana dalam warna pink kepada perwakilan KPK, di gedung KPK, Jakarta, Jumat (23/4).

Dua karyawati KPK yang merupakan staf hubungan masyarakat pun nampak risih terhadap kado yang tidak spesial itu. Penerimaan celana dalam akhirnya diwakilkan oleh salah satu petugas keamanan KPK.

Puluhan massa yang tergabung dalam Solodarita Pemuda Anti Korupsi (SPAK) sebelumnya melakukan aksi demo di halaman gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan Jakarta Selatan. Mereka mendesak KPK segera menangkap Gubernur Riau, Rusli Zainal.

SPAK menilai, politisi asal Partai Golkar itu melakukan korupsi dalam pemanfaatan hutan di Kabupaten Siak Riau sehingga menyebabkan kerugian negara Rp12,3 miliar. “Alasan apa KPK tidak menangkap Rusli Zainal, jangan-jangan KPK bermain mata dengan gubernur Riau,” teriak Dayat.

Ada yang tidak biasa juga dalam aksi demo kali ini, kalau biasanya Pimpinan KPK yang menjadi sasaran pelampiasan kekesalan, massa kali ini meneriaki Juru Bicara KPK Johan Budi untuk segera menangkap Rusli.

Dalam salah satu spanduk nama Johan Budi pun ditulis besar-besar dengan tulisan menyindiri, ‘Johan Budi: Kami akan menangkap Gubernur Riau, tapi hari ini KPK mau santai saja,’ tulis spanduk itu.

inilah/rif

LOWONGAN PEKERJAAN
Tegar Transport Hotel Paragon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…