Kamis, 22 April 2010 11:47 WIB News,Ekonomi Share :

PLN ancam padamkan PLTU Labuan Angin

Jakarta— PT PLN (persero) mengancam akan mematikan PLTU Labuan Angin, Sumatera Utara gara-gara pernah ditipu oleh pemasok batubara yang mengirim batubara dengan spesifikasi tak sesuai perjanjian.

Dirut PLN Dahlan Iskan mengungkapkan, gara-gara spesifikasi batubara yang buruk tersebut, PLTU Labuan Angin pun tak bisa berproduksi maksimal.

“Labuhan Angin itu sebenarnya bisa berproduksi 115 MW tapi karena batubara yang disuplai tidak cocok dengan mesinnya maka hanya bisa berproduksi 20-30 MW,” ungkap Dahlan dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VII DPR, Rabu (21/4) malam.

Menanggapi kecurangan tersebut, Dahlan menyatakan pihaknya bertindak tegas dengan mengancam pihak supplier jika tidak memberikan batu bara yang cocok sesuai perjanjian maka pihaknya akan membiarkan Labuhan Angin tutup. Alhasil, digertak seperti itu, supplier bersedia memberikan batu bara-batu bara yang baik.

“Kami rapat bagaimana menyikapinya. Kami ancam, kalau Anda tidak mengirimkan batubara baik, kita biarkan labuan ini mati,biar DPR tahu, jadi tahu siapa yang salah. Ternyata supplier mau mengirim kalau kita tegas,” tegasnya.

Belajar dari pengalaman tersebut, Dahlan menyadari betapa pentingnya laboratorium pengontrol pasokan batubara agar tidak bisa ditipu lagi oleh para supplier. Dahlan bahkan mengaku dirinya siap membobol ruangan untuk memenuhi kebutuhan akan laboratorium pengontrol pasokan batubara.

Ditargetkan laboratorium tesebut akan resmi beroperasi pada Mei 2010 mendatang. Pembangunan laboratorium tersebut dimaksudkan untuk mengontrol kualitas pasokan batubara.

dtc/rif

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…