Rabu, 21 April 2010 13:15 WIB Tekno Share :

Migrain sebabkan orang Inggris berlogat China

Seorang perempuan Inggris tengah menderita sindrom yang jarang terjadi. Gara-gara sakit migrain yang parah di kepala, perempuan bernama Sarah Colwill itu kini berbicara dengan logat mirip orang China saat bercakap-cakap dengan bahasa Inggris.

Sejumlah media massa di Inggris mengungkapkan bahwa perempuan berusia 35 tahun itu kemungkinan mengidap sindrom aksen orang asing (Foreign Accent Syndrome / FAS), yang menyebabkan penderita sulit kembali berbicara dengan dialek normal.

Sejak kecil, Colwill selalu tinggal di Plymouth sehingga berbicara bahasa Inggris logat Devon. Namun, sejak menderita migrain akut, orang-orang dan Colwill sendiri merasa gaya bicaranya sudah berubah menjadi mirip logat yang sering diucapkan orang China saat berbahasa Inggris.

“Saya merasa frustrasi. Saya ingin kembali berbicara dengan normal…Padahal saya belum pernah ke China,” kata Colwill seperti dikutip laman harian The Telegraph, Senin (19/4).

Setelah diperiksa dokter, warga kota Devon ini mengungkapkan bahwa gangguan berbicara yang dia alami terkait dengan penyakit migrain. Menurut laman harian the Guardian, sudah sekitar sepuluh tahun Colwill menderita sakit kepala, namun baru awal tahun ini dia mengetahui dari dokter bahwa dirinya mengidap migrain akut – sporadic hemiglephic migraine.

Kondisi itu menyebabkan pembuluh darah di otak menyebar sehingga mengakibatkan gejala mirip stroke, yaitu kelumpuhan pada organ tubuh tertentu. Efek migrain pada umumnya berlangsung selama tujuh hari, namun Colwill sering menderita sakit migrain, yang menyebabkan kerusakan pada otaknya pada 20 Maret lalu.

Perempuan Inggris yang lahir di Jerman itu pernah menelpon nomor bantuan darurat 999. Namun petugas yang menerima telepon menyangka Colwill adalah orang China, karena tidak berbicara layaknya orang Inggris.

“Pada pekan-pekan pertama, saya merasa gaya bicara saya ini terdengar lucu, namun logat bicara mirip orang China ini tidak bisa hilang sehingga membuat saya terganggu. Ini bukanlah suara saya,” kata Colwill kepada The Guardian.

Tim dokter yang merawat Colwill tengah memeras otak untuk mencari cara yang tepat menyebuhkan pasien penderita FAS.

Pakar fonetik dari Universitas Oxford, John Coleman, menilai sindrom FAS yang dialami Colwill itu jarang terjadi. “Sindrom itu diakibatkan stroke dan kerusakan otak, namun kondisi itu begitu jarang terjadi sehingga penelitian atas kasus itu terbatas,” kata Coleman seperti yang dikutip harian Daily Mail.

Kasus FAS pertama terjadi di Norwegia pada 1941. Saat itu seorang gadis Norwegia terkena pecahan bom pesawat sehingga merusak otaknya. Logat bicara korban akhirnya mirip orang Jerman.

vivanews/rif

lowongan pekerjaan
PT. SEJAHTERA MOTOR GEMILANG, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….