Selasa, 20 April 2010 18:14 WIB Tak Berkategori Share :

Tak punya lahan, petani bertanam di bekas sungai

Karanganyar (Espos)–Sejumlah petani di Desa Waru bercocok tanam di areal bekas sungai, yang bersebelahan dengan jalan raya Solo-Sragen. Areal itu memang sudah tidak dialiri air lagi dan dipenuhi lumpur setebal mata kaki orang dewasa.

Ny Wignyo, 62, warga Dusun Gardu, Desa Waru, mengaku telah lama memanfaatkan lahan bekas sungai seluas 2×80 meter itu lebih dari setahun. “Saya tidak punya sawah dan tidak kuat menyewa lahan,” katanya saat ditemui Espos di lokasi bekas sungai itu, Selasa (20/4).

Untuk menyewa lahan sawah, dia harus membayar biaya sewa Rp 7 juta per tahun. Agar tidak merugi, para penyewa juga diwajibkan untuk panen tiga kali setahun. Kewajiban itu dirasa berat bagi Wignyo karena ia juga belum membayar tenaga yang membantunya. Sementara jika bercocok tanam di areal bekas sungai itu, dia bisa memanen padi tiga bulan sekali.
Namun ia sering mengalami sejumlah kendala. Salah satunya yakni ketika hujan, lahan itu justru mendapat kiriman air dari jalan raya, dan mengaliri ke bekas sungai itu. Akibatnya, sejumlah padi yang telah ditanam terendam air.

“Tapi pas cuacanya panas, kadang tanahnya jadi kering,” keluhnya. Untuk menanggulanginya, Wignyo harus menyewa mesin diesel guna mengalirkan air dari sungai di sebelahnya.

Selain itu, dia juga mengeluhkan banyaknya tikus yang memakan padi yang ia tanam. Padi jenis IR-64 yang masih berumur tiga minggu saja, kata dia, sudah ada yang dimakan tikus. Padahal, belum semua padi muda miliknya itu disebar. “Susah untuk membasmi tikus itu,” katanya. Serangan tikus belum beres, kadang muncul permasalahan baru, yakni serangan bekicot.
Belum lagi harga bibit padi yang mengalami lonjakan. Sekarang, harga bibit itu senilai Rp 33.000 per lima kilogram. “Naik Rp 5.000,” ujarnya.

Hasil dari penanaman padi di areal bekas sungai, aku Wignyo, tidak banyak. Ia hanya bisa menghasilkan 4,5 kantong beras. Hasilnya itu pun juga tidak ia jual, tapi untuk dikonsumsi sendiri.


m87

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.ARTABOGA CEMERLANG, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…