Selasa, 20 April 2010 16:12 WIB Solo Share :

Giliran pedagang Windujenar minta rehab

Solo (Espos)--Pedagang Pasar Windujenar, Banjarsari, yang merupakan pasar besi dan barang antik, meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Solo melakukan rehabilitasi terbatas bangunan pasar.

Pasalnya, bangunan pasar yang dioperasikan September 2009 itu dinilai tidak representatif utamanya bagian tangga. Selain itu, sejak beberapa bulan terakhir atap pasar mengalami kebocoran cukup parah. Seperti disampaikan Keua Paguyuban Pedagang Pasar Windujenar (P3W), Bambang Sarjuno, saat ditemui Espos di kiosnya, Selasa (20/4). Akibatnya, omzet pedagang pasar anjlok drastis.

“Aksesibilitas kurang. Memang ada enam tangga, tapi letaknya tidak tepat karena cenderung tersembunyi. Tidak mudah dilihat. Kondisi ini membuat pedagang di lantai II semakin kelimpungan. Kami sudah sampaikan kepada Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan FX Hadi Rudyatmo. Masih menunggu,” ujarnya. Dia menambahkan, yang menjadi persoalan yakni tidak adanya papan nama di bagian depan pasar.

Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) memasang papan nama yang bertuliskan nama pasar dan jenis-jenis dagangan yang dijual. Langkah tersebut menurutnya sebagai upaya sosialisasi pasar dan dagangan. Sebab selama ini Windujenar hanya dikenal sebagai pasar barang antik. Sedangkan tentang atap bangunan yang bocor menurut dia jumlahnya mencapai 12 titik. Kendati sempat diperbaiki oleh DPP, namun kebocoran justru semakin banyak.


kur

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.ARTABOGA CEMERLANG, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…