Senin, 19 April 2010 19:32 WIB Solo Share :

Enam pasar tradisional jadi hunian, DPP segera bertindak

Solo (Espos)--Dinas Pengelola Pasar (DPP) Solo menemukan sedikitnya enam pasar tradisional yang beberapa kios/los-nya disalahgunakan pedagang untuk hunian.

Enam pasar itu adalah Pasar Jebres, Pasar Jongke, Pasar Gading, Pasar Harjodaksino, Pasar Depok dan Pasar Kliwon. Berdasarkan pantauan DPP, pedagang nekat menyulap kios/los sebagai hunian karena menurut mereka tinggal di dalam pasar lebih hemat. Pedagang tidak perlu mengelurakan biaya transport untuk bolak balik dari rumah ke pasar. Serta, bagi yang tinggal di luar kota, pedagang tidak harus mengelurakan dana untuk kontrak rumah.

Kepala DPP Solo, Subagiyo menegaskan kios/los dalam pasar tidak boleh dipakai sebagai hunian. Pedagang memang diberi izin melakukan aktivita di dalam pasar pada malam hari, namun izin dari lurat pasar setempat itu hanya diberikan bagi pedagang yang harus bongkar muat atau menjaga barang dagangannya. “Tidak ada alasan, itu jelas melanggar. Tindakan DPP tetap sesuai aturan, kami akan memberikan surat peringatan, berdialog, sehingga pedagang mengerti. Rata-rata mereka paham dan akhirnya mau pindah,” papar Subagiyo, saat ditemui wartawan, di Balaikota, Senin (19/4).

Menurut data DPP, jumlah pedagang yang mengubah kios/los menjadi hunian bervariasi di masing-masing pasar. Di Pasar Jebres, DPP menemukan 28 kios yang disulap menjadi hunian. Dua pedagang sudah membongkar hunian mereka dan sisanya dipastikan mengikuti kedua rekannya paling lambat 10 Mei 2010. Sedangkan di Pasar Jongke, terdapat 32 kios/los yang disalahgunakan menjadi hunian. Sebanyak 14 pedagang sudah mengembalikan fungsi kios/los mereka, sisanya meminta toleransi waktu hingga akhir April.


tsa

LOWONGAN PEKERJAAN
Tegar Transport Hotel Paragon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…