Minggu, 18 April 2010 13:22 WIB Karanganyar Share :

Wanita masih enggan lakukan screening kanker serviks

Karanganyar (Espos)--Saat ini masih banyak wanita di Indonesia yang tidak mau melakukan screening atau upaya pendeteksian secara dini terhadap penyakit kanker serviks atau kanker leher rahim. Demikian diungkapkan fasilitator penanggulangan kanker leher rahim Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Dr Rudi Prihartono, dalam ceramah klinik penyakit tidak menular Deteksi Dini kanker Rahim dan Payudara di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Sabtu (17/4) .

Lantaran banyaknya wanita yang masih enggan untuk melakukan screening itu, maka penyakit kanker serviks menempati peringkat pertama di Indonesia. Biasanya, kaum hawa baru melakukan screening jika kanker itu sudah mencapai stadium lanjut. Rudi mengatakan, ada banyak faktor mengapa wanita tak mau melakukan screening. “Karena ketidaktahuan, malu, takut dan faktor biaya,” ujar Rudi.

Sebenarnya, kata dia, ada banyak metode screening. Namun yang lazim digunakan di Indonesia yakni tes Pap, tes IVA dan downstaging. Tes Pap adalah metode pengambilan dan pemeriksaan sel leher rahim melalui pemeriksaan lendir mulut leher rahim. “Caranya dengan mengambil sampel getah sel atau cairan serviks untuk tes pap,” ujar Rudi.

Metode kedua yakni dengan tes inspeksi visual dengan aplikasi asam asetat (IVA). Keunggulan dari tes IVA ini yakni sangat sederhana, praktis dan dapat dilakukan oleh semua tenaga medis. Bahkan di Puskesmas pun bisa. Beda dengan tes pap yang kadang harus dilakukan oleh dokter obstetri ginekologi dan biayanya tergolong mahal. Sedangkan biaya tes IVA, sambung Rudi, sangat terjangkau.

Cara ketiga yakni dengan downstaging atau screening hanya dengan melihat serviks dengan mata telanjang. Cara ini, ungkap Rudi, kurang maksimal karena hanya dengan melihatnya saja, tanpa memeriksa.
Ia mengimbau kepada ibu-ibu agar setelah melakukan aktivitas seksual, melakukan screening kanker serviks. “Metode IVA layak dipilih sebagai metode screeing alternatif untuk kanker serviks.

m87

Kolom

GAGASAN
Tantangan Guru pada Era Digital

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Sabtu (25/11/2017). Esai ini karya Novy Eko Permono, alumnus Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah novyekop@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Krisis multidimensional yang dihadapi bangsa Indonesia semakin pelik mana kala arus…