Sabtu, 17 April 2010 19:00 WIB News Share :

Walikota Jakut siap dicopot terkait bentrok Priok

Jakarta–Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiyono menegaskan siap dicopot dari jabatannya menyusul insiden berdarah Tanjung Priok. Sebelumny, Gubernur nur DKI Jakarta Fauzi Bowo telah mencopot Kepala Tramtib dan Linmas Harianto Badjuri, Jumat malam (16/4).

“Bila harus dicopot jadi Walikota, saya ikhlas. Jabatan adalah amanah dari Allah. Dan pertemuan ini, bukan sarana minta dikasihani agar tidak dicopot dari jabatan walikota,” tegas Bambang di hadapan tokoh pemuda di Kantor Walikota Jakarta Utara, Sabtu (17/4).

Pernyataan itu disampaikan Bambang saat menjawab pertanyaan para tokoh masyarakat yang menghujat kepemimpinannya sebagai Walikota Jakarta Utara.

Elemen masyarakat yang hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Pemuda Pancasila, Himpunan Mahasiswa Islam, Front Pemuda Jakarta Utara danĀ  organisasi pemuda dan masyarakat lainnya di Jakarta Utara.

Sebenarnya, kata Bambang, pihaknya tidak menyukai adanya penggusuran. Dia beralasanĀ  penggusuran yang selama ini dilakukan adalah untuk kepentingan masyarakat juga. Seperti pedagang kaki lima di lorong 104 Koja Jakarta Utara.

Dalam kesempatan itu, Bambang menjadikan peristiwa bentrok di sekitar lahan Mbah Priok menjadi sejarah dalam kepemimpinannya. “Saya akan lebih berhati-hati lagi. Dan saya minta maaf kepada masyarakat Jakarta Utara atas kejadian Mbah Priok,” ucap Bambang.

Para tokoh pemuda dan masyarakat menilai Bambang gagal merangkul pemuda, sehingga terjadi peristiwa berdarah Mbah Priok. Mereka menganggap selama ini, pemuda di Jakarta Utara tidak diperdulikan.

“Kalau sudah begini, baru kita dilibatkan. Kenapa tidak sejak awal. Tentunya kami akan bantu sosialisasi, itu pun bila program yang masuk akal. Kejadian kemarin itu, tanpa kita provokasi massa bergerak sendiri,” kata wakil dari KNPI.

Menjawab pernyataan tersebut, Bambang berjanji akan lebih sering menggelar pertemuan dengan warga. “Perlu diingat lagi, tidak ada pretensi apapun dalam pertemuan ini. Bisa saya tetapkan tiga bulan sekali kita gelar pertemuan seperti ini,” ujar walikota.

Sementara mengenai uang sebesar Rp 11 miliar dari Pelindo yang disebutkanĀ  menjadi latar belakang pembongkaran makam Mbah Priok, Bambang mengatakan dana dari Pelindo jatuh langsung ke pasukan. Namun ia tidak menjelaskan pasukan yang dimaksud, apakah Satpol PP.
“Diluar pasukan tidak ada yang menerima uang itu. Kita lihat saja hasil penyelidikan kasus Mbah Priok,” tegasnya.

vivanews/rif

lowongan pekerjaan
EDITOR MATEMATIKA (Fulltime), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Vaksinasi dan Herd Immunity

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (16/12/2017). Esai ini karya Riris Andono Ahmad, Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Solopos.com, SOLO–Heboh outbreak penyakit difteri dan rendahnya cakupan imunisasi karena penolakan kelompok anti vaksin menimbulkan keresahan…