Sabtu, 17 April 2010 11:32 WIB News,Pendidikan Share :

Indonesia sabet juara umum diajang internasional

Denpasar – Sebuah prestasi spektakuler diraih oleh anak-anak Indonesia di ajang International Conference of Young Scientist (ICYS). Mereka berhasil meraih gelar juara umum dengan menyabet 7 medali emas, 1 medali perak dan 3 medali perunggu.

Selain itu, 2 peserta juga mendapat special award. “Ini prestasi maksimal yang kita raih dalam 5 tahun terakhir,” kata Tim Leader Indonesia, Monica Raharti saat acara penutupan dan penyerahan medali yang dilakukan di Hotel Grand Bali Beach Sanur, Jum’at (16/4).

Gelar juara umum merupakan gelar kali kedua yang didapatkan, setelah tahun lalu pada ICYS ke-16, Tim Indonesia menang di Pszcznya, Polandia dengan 6 medali emas.

Indonesia kali pertama mengikuti ajang ini pada 2005 di Katowice, Polandia dengan meraih 1 medali perunggu. Lalu pada tahun 2006 di Stuttgart, Jerman, berhasil menyabet 2 perunggu. Pada tahun 2007 di Saint Petersburg, Rusia prestasi Indonesia meningkat dengan satu medali Perak. Lalu di Chernivtstky, Ukraina tahun berikutnya meraih satu perak dan satu perunggu.

Salah-satu peraih medali emas dari Indonesia, Oki Novendra, mengaku sangat gembira dengan prestasi itu. “Saya membuktikan mampu berprestasi di ajang internasional ini,” ujarnya.Dia sendiri mempresentasikan penelitian yang unik, yakni dengan menerapkan penjelasan matematis dalam kematian Michael Jackson yang diasumsikan akibat penggunaan Demerol.

Sejak Januari, 12 siswa SMA yang sudah diseleksi dari tingkat Kabupaten telah menjalani masa karantina. Dalam satu bulan, 3 hari penuh mereka dijejali teknik presentasi serta penajaman materi. “Pelatihnya kami datangkan dari ITB dan universitas lain,” ujar Monica.

Khusus untuk tehnik presentasi, pelatih didatangkan Yohannes Surya Institute yang memiliki pengalaman khusus di ajang-ajang seperti ini. “Kami juga berusaha menanamkam mental juara,” ujar Monica.

Bagi anak-anak itu, Departemen Pendidikan Nasional telah menjanjikan mereka bisa dapat masuk ke Perguruan Tinggi Negeri tanpa test. Selain itu, mulai tahun depan mereka diusahakan mendapat bea siswa untuk biaya sekolahnya.

Koordinator panitia, Suharlan, menyebut pelaksanaan yang baru kali pertama di Asia ini mendapat pujian dari Presiden ICYS Zsuzsanna Rajkowits. “Beliau terkesan dengan kerapian acara dan keramahan kita,” ujarnya.

tempointeraktif/ tiw

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…