Sabtu, 17 April 2010 11:11 WIB Issue Share :

Dilamar jadi Cabub, Lola Amaria menolak

Jakarta – Sutradara Lola Amaria mengaku tidak berminat ikut-ikutan tejun ke rimba raya politik daerah seperti yang belakangan dilakoni sejumlah artis. Ia lebih memilih mengembangkan perfilman nasional daripada terjebak lingkaran setan korupsi yang ada di pemerintahan.

“Saya ingin tetap bebas. Pernah ditawarin maju tapi saya tidak mau,” kata Lola di Jakarta, Jumat, (17/4).

Namun, ia enggan menyebutkan partai apa saja yang pernah meminangnya menjadi calon bupati (Cabub). Lola merasa tidak tidak pantas berada di kursi kekuasaan. Ia mengaku lebih cocok intens di jagat perfilman.

“Kalau politik, saya tidak punya kapasitas. Mungkin bisa belajar dulu, tapi saya lebih suka di dunia film,” tegas salah satu pemain film Ca Bau Kan itu.

Namun, Lola menyambut baik keputusan beberapa sejawatnya bertarung menuju kursi bupati atau wakil di pemilihan umum kepala daerah nanti. Sebut saja, Julia ‘Jupe’ Perez, Ikang Fawzi, dan Maria Eva. “Sah-sah saja ya. Saya senang mereka maju di Pilkada,” ungkap Lola.

Menurut wanita yang sebentar lagi merilis film Minggu Pagi di Victoria Park ini, menjadi pejabat harus memiliki sejumlah kemampuan, antara lain, mengelola pemerintahan, tahu kondisi rakyat yang akan dipimpin, dan terakhir, jeli memanfaatkan sumber daya manusia. “Jadi bukan sekedar popularitas saja. Jangan sampai nanti jadi celaan atau ledekan di belakangnya,” ungkap Lola.

tempointeraktif/ tiw

LOWONGAN PEKERJAAN
SMK MUHAMMAADIYAH PROGRAM KHUSUS (PK) KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…