Kamis, 15 April 2010 16:39 WIB Pendidikan Share :

Pelajar Solo deklarasikan antivandalisme

Solo (Espos)--Sejumlah pelajar SMA seKota Solo yang tergabung dalam Greget Pelajar Solo (GPrS) mengaku resah dengan aksi vandalisme pada fasilitas publik, terkait hal itu pemerintah seharusnya memberikan tempat khusus untuk aksi corat-coret tersebut.

Ketua GPrS, Stefanny Florencia mengatakan upaya dari pemerintah Kota Solo untuk melakukan penertiban aksi corat-coret yang cenderung merusak atau vandalisme dinilai belum optimal, sehingga harus ada kegiatan yang bersinambungan untuk mensukseskan misi tersebut. Dia mengungkapkan, kegiatan vandalisme tidak hanya meresahkan tetapi aksi tersebut dinilai merusak estetika kota.

“Vandalisme itu tidak bisa diberantas begitu saja, harus ada upaya yang berkelanjutan yang mampu meminimalisasi kegiatan tersebut,” jelas dia ketika dijumpai Espos di Pendopo Pasar Windhujenar, Ngarsopuro, Kamis (15/4).

Dia mengungkapkan, beberapa waktu lalu GPrS menyampaikan proposal ke Pemerintah Kota terkait kegiatan antivandalisme, selain itu pihaknya meminta pemerintah kota untuk menyediakan ruang terbuka untuk aksi kreatif yang berada di areal Manahan. Menurutnya, aksi vandalisme identik dilakukan oleh pelajar, padahal kegiatan merusak adalah kegaiatan yang dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab.
“Jika aksi corat-coret difasilitasi seperti halnya di Yogyakarta, maka hal tersebut justru menjadi aksi kreatif,” papar dia.

das

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…