Rabu, 14 April 2010 20:31 WIB News Share :

57 Rumah tak layak huni akan dipugar

Salatiga (Espos)–Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, KB dan Ketahanan Pangan Kota Salatiga tahun ini menyiapkan program pengentasan kemiskinan berupa pemugaran rumah tak layak huni sebanyak 57 unit tahun ini. Anggaran senilai Rp 185 juta disiapkan untuk melaksanakan program tersebut.

Menurut Kepala Bapermas Perempuan KB dan Ketahanan Pangan Kota Salatiga, Endang DW, jumlah keluarga miskin di kota berhawa sejuk hingga awal tahun 2010 ini masih tergolong tinggi. Mengutip data hasil sensus penduduk oleh Badan Pusat Statistik, jelas dia, sekitar 4442 kepala keluarga masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara jumlah penduduk salatiga sendiri berkisar 176.795 jiwa.

“Penyebaran rumah tangga miskin ini merata di empat kecamatan. Hampir semua kepala keluarga miskin tidak memiliki penghasilan tetap,” ungkapnya kepada wartawan, Rabu (14/4).  Dengan adanya program pemugaran rumah tak layak huni ini diharapkan bisa mengurangi jumlah KK miskin. Karena indikator kemiskinan salah satunya dilihat dari kondisi tempat tinggal yang tak layak.

Apabila indikator kemiskinan berkurang maka jumlah keluarga miskin pun bisa berkurang.  Jika dibandingkan program serupa tahun lalu, sasaran program tahun ini diakui Endang jumlahnya lebih sedikit. Tahun lalu pemugaran rumah mencapai 117 unit atau lebih dari 200 persen dari jumlah unit yang akan dipugar tahun ini. Meski lebih sedikit, namun dipastikan kualitas rumah yang dipugar jauh lebih baik.

“Dulu tiap rumah hanya diberi alokasi Rp 2,5 juta, namun tahun ini Rp 5 juta. Maka unit rumahnya pun berkurang,” tukas Endang.  Pemugaran rumah tidak layak huni ini, nanti akan diarahkan menjadi rumah sehat. Dengan beberapa indikator infrastruktur seperti ketersediaan dapur, tempat mandi cuci kakus (MCK) serta ventilasi yang sehat.

kha

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…