Selasa, 13 April 2010 21:34 WIB Wonogiri Share :

Tidak selamanya anjing dan kucing bertengkar

Wonogiri (Espos)–Biasanya anjing dan kucing dikenal sebagai dua jenis yang berbeda dan bahkan bisa dibilang saling bermusuhan. Namun di  Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, teori itu seperti terbantahkan. Sebab di Dusun Sambi RT 1/RW I, Desa Johunut dan di Dusun Janglot/Tlogorejo, Desa Songbledeg.

Tak ayal fenomena  tersebut menjadi tontonan menarik bagi warga dua desa di Kecamatan Paranggupito. Di Dusun Sambi RT 1/RW I, Desa Johunut dan di Dusun Janglot/Tlogorejo, Desa Songbledeg, keduanya masuk Kecamatan Paranggupito kerukunan kedua hewan piaraan itu menjadi tontonan dan klangenan masyarakat. Di Dusun Sambi, hewan anjing dan kucing dipelihara oleh Tusiran, sedang di Dusun Janglot/Tlogorejo dipelihara oleh Saino.

Untuk mencari lokasi itu tidaklah sulit, karena hampir semua masyarakat telah mengetahui cerita soal kerukunan kedua hewan itu. Namun untuk mencapai rumah pemilik hewan harus melewati jalanan beraspal semen dan berliku-liku.

Saat  menelusuri kedua lokasi itu, Selasa (13/4), Espos harus cukup lama adalah menunggu agar kedua jenis hewan itu untuk menyatu, karena saat Espos datang kedua hewan itu mencari makan sendiri-sendiri.

“Kedua hewan itu kami satukan sejak keduanya masih kecil-kecil. Kedua hewan itu kami peroleh dari tetangga. Anjing dan kucing sudah kami pelihara sekitar dua tahun ini,” ujar Tusiran.

Lebih lanjut Tusiran menceritakan hampir setiap hari, saat anjing dan kucing miliknya berkumpul, si anjing selalu mencari kutu di tubuh kucing. “Kebiasaan itu, terkadang membuat Kuti (kucing) enggan dan was-was jangan-jangan akan dimakan, padahal tidak dan tingkah laku Sufi (anjing) dilakukan pada hewan yang lain.”

Sedangkan di rumah Saino, Dusun Janglot/Tlogorejo, Songbledeg, kedua hewan piaraan diberi nama Amil untuk anjing dan hewan kucing tidak diberi nama. “Anjing itu bisa berperilaku seperti induk (ibu) kucing, mau menyusui sehari dua kali. Pagi sekitar jam 09.00 WIB dan sore hari sekitar jam 17.00 WIB. Kedua hewan itu kami biarkan untuk mencari makan sendiri-sendiri dan biasanya bepergian di sekitar rumah,” ujar Joni, anak Saino.

Dia mengatakan saat jam-jam menyusui si anjing pulang dan kucing pun mendekat untuk minum air susu. Cerita Joni itu diamini oleh para pemuda dan warga yang kebetulan kemarin datang ke rumahnya. “Si anjing akan menggonggong jika melihat orang asing saat menyusui “si anak”. Terkadang si anjing justru lari dan takut saat melihat orang yang belum terbiasa datang ke rumahnya.”

tus

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…