Suwarmin, Station Manager Star FM Yogyakarta
Minggu, 11 April 2010 16:41 WIB Kolom Share :

Dampak sistemik Susno…

Kejujuran akan melahirkan respek, rasa hormat dan kepercayaan. Sebaliknya, kebohongan dan kecurangan akan meruntuhkan rasa hormat dan melahirkan ketidakpercayaan. Itu berlaku untuk semua orang. Bagi aparatur negara yang bekerja di kantor pajak, kepolisian, kejaksaan dan alat negara yang lain, ungkapan itu terasa begitu pas belakangan ini. ”Itu hukum alam Bro!” kata teman saya, Jeng Kenes, sambil menuding iklan pajak di televisi. Maksud Kenes, setelah cukup lama isu pajak relatif steril dari berita miring, belakangan isu tentang pajak banyak diwarnai ketidakpercayaan publik. Kawan-kawan di kantor pajak mungkin sebal setengah mati kepada Gayus Halaomoan P Tambunan, sejawat mereka yang menghancurkan citra pegawai pajak. Mereka yang tergolong pegawai nakal, belakangan mungkin harap-harap cemas akan tersapu aksi bersih-bersih di kantor pajak. Iklan pajak terbaru, yang menyisipkan kata-kata ”jujur”, menjadi ironi di tengah isu tak sedap dari Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Bahkan berita terbaru menyebutkan, sedikitnya Rp 140 triliun uang pajak ditilep oleh para ”tikus” di kantor pajak [SOLOPOS, (11/4)]. ”Mestinya pemilihan bahasa untuk iklan pajak tidak bercerita tentang how to do atau how to pay kepada kita sebagai wajib pajak, melainkan mengarah kepada how to believe atau how to make a trust,” kata Kenes lagi. Kalau hanya satu orang atau segelintir orang yang curang, mungkin bisa disebut noda. Kalau hanya sedikit uang negara yang diambil, mungkin bisa disebut sebagai penyakit. Tetapi kalau banyak orang pajak yang curang, mungkin lebih tepat disebut musibah atau bencana. Kini setiap hari kita mendengar ada perkembangan terbaru seputar kecurangan pajak yang melibatkan pejabat atau mantan pejabat kantor pajak, petinggi kepolisian, aparat kejaksaan atau mereka yang kini dikenal sebagai makelas kasus (Markus) pajak. Suka atau tidak, situasi ini terjadi berkat Komjen Polisi Susno Duadji, mantan Kabareskrim, yang kini seperti kesetanan membuka aib para aparatur negara di kantor pajak maupun di kepolisian negara, lembaga tempat dia dibesarkan. Nama Gayus tidak tiba-tiba muncul, Susno yang mendorongnya untuk disantap media. Mulut Susno terus menerus bernyanyi, menjadi news maker setiap hari. Aksi bersih-bersih Kini publik mengenal mantan Kapolda Lampung Brigjen Pol Edmond Ilyas, Bahasyim Assifie, Syahril Johan, dan sejumlah nama lain yang diduga terlibat kasus penilapan uang pajak. Nama-nama itu yang disorongkan Susno ke depan wartawan. Kalau Susno tidak bernyanyi, mungkin kejahatan perpajakan akan tersembunyi di balik lipatan. Mungkin nama-nama yang kini menjadi pesakitan, masih jumawa di kursi kekuasaannya. Sejumlah orang mengatakan, aksi Susno Duaji lebih mirip sebagai seseorang yang ingin menunjukkan siapa dirinya, seseorang yang ingin membalas dendam karena merasa diperlakukan tidak sebagaimana mestinya, bukan sebagai pangeran kebajikan yang ingin menumpas segala kejahatan. ”Banyak yang mengatakan, kok Susno baru koar-koar sekarang, di saat dia kehilangan kekuasaannya sebagai Kabareskrim Polri. Kalau dulu dia melakukukan bersih-bersih, tentu hasilnya akan lebih baik,” kata Mas Boy, teman saya yang lain, ikut nimbrung. ”Tetapi, justru sekarang dia di luar jabatan, dia menjadi lebih leluasa bergerak,” timpal Jeng Kenes. ”Ah, apapun motivasinya, bagi rakyat itu tidak penting. Susno mungkin dendam karena sebuah perkara yang kita tidak tahu, seolah-olah hanya dibebankan kepada dirinya. Tetapi itu menjadi tidak penting. Yang pasti, Susno kini memaksa semua orang saling tunjuk borok, saling tuding kesalahan sejawat mereka, kini semua orang ramai-ramai melakukan aksi bersih-bersih. Siapa tahu dengan begini, aparatur negara menjadi lebih bersih.” Rasanya belum lama Susno dihujat banyak orang karena ungkapan cicak melawan buaya yang disampaikannya terkait perseteruan antara Mabel Polri dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kini di laman pertemanan Facebook, nama Susno berbalik 180 derajat, dari dihujat menjadi dipuja, ibarat kata from zero to hero. Kalau dulu ada ”Gerakan 1.000.000 Facebooker dukung Chandra Hamzah dan Bibid S Riyanto” kini setidaknya muncul ”Gerakan 1.000.000 Facebooker dukung Pak Susno tegakkan Keadilan” atau ”Gerakan 1.000.000 Facebooker dukung Susno Duadji sebagai Kapolri”. Meminjam kata-kata ”sistemik” yang populer pada saat skandal Century tengah ramai menjadi berita, kini kita berharap aksi buka-bukaan Susno Duadji melahirkan dampak sistemik pula. Artinya, para pihak yang telibat dalam kasus penggelapan pajak saling menelanjangi kebobrokan masing-masing, sehingga petugas negara yang kotor minggir dan menyisakan mereka yang bersih. Apa yang dilakukan Susno juga menghasilkan momentum perbaikan bagi kepolisian, kejaksaan, direktorat jenderal pajak dan lainnya. Kalau alat-alat negara itu ingin berbenah, sekaranglah saat yang tepat. Jika pembenahan dilakukan dengan konsisten, pelan-pelan kepercayaan masyarakat akan kembali diperoleh. Tapi jika tidak berbenah, kepercayaan dan respek dari publik jangan diharapkan lagi. [] Suwarmin Station Manager Star Jogja FM

lowongan pekerjaan
PT.SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL JL CPT Taft GT4x4’94,Body Kaleng,Ori,Asli KLATEN:081391294151 (A00593092017) “…
  • LOWONGAN CARI PTIMER 2-4 Jam/Hari Sbg Konsltn&SPV Bid.Kshtn All Bckgrnd Smua Jursn.Hub:0811.26…
  • RUMAH DIJUAL Jual TNH&BGN HM 200m2,LD:8m,Strategis,Makamhaji,H:08179455608 (A00280092017) RMH LT13…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Arsip dan Tertib Administrasi Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (15/9/2017). Esai ini karya Romi Febriyanto Saputro yang menjabat sebagai Kepala Seksi Pembinaan Arsip dan Perpustakaan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sragen. Alamat e-mail penulis adalah romifebri@gmail.com. Solopos.com, SOLO–UU No. 43/2007 tentang Kearsipan…