Minggu, 11 April 2010 14:09 WIB Sragen Share :

4 Rumah warga jadi korban, tanah longsor ancam 3 desa di Kalijambe

Sragen (Espos)–Sebanyak tiga desa di Kecamatan Kalijambe, Sragen terancam longsor selama musim hujan. Terbukti sebanyak empat rumah warga di Desa Ngebung, Kalijambe telah menjadi korban tanah longsor saat hujan deras Senin (5/4) lalu sekitar pukul 21.00 WIB.

Ketiga desa yang terancam tanah longsor berdasarkan pendeteksian dari Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol dan Linmas) meliputi, Desa Ngebung, Krikilan dan Bukuran. Camat Kalijambe Tugino dalam laporan yang disampaikan ke Kesbanglinmas menerangkan, keempat rumah warga yang terkena longsoran tanah itu antara lain, rumah milik Darno, Subakdi, Samijo dan Tugimin. Keempat warga itu terletak di Dukuh Sendang Klampok RT 17 dan Dukuh Glagah Ombo RT 13, Desa Ngebung, Kalijambe.

“Untuk sementara sejumlah warga sekitar relah melakukan gotong royong untuk memperbaiki bangunan rumah yang terkena longsor. Namun karena permasalahan dana, maka para korban kesulitan untuk segera memperbaiki,” tegas Tugino.

Kasi Penanganan dan Penanggulangan Bencana Kesbangpol dan linmas Sragen, Sukiman mengatakan, para korban itu sudah mendapatkan bantuan dari Dinas Sosial saat melakukan tinjauan ke lapangan beberapa hari lalu. Menurut dia, saat ini sudah ada penanganan, sehingga warga sudah bisa memperbaiki rumahnya.

Kepala Kesbangpol dan Linmas Sragen, Wangsit Sungkono menambahkan, ancaman tanah longsor di wilayah Kecamatan Kalijambe itu masih terjadi, terutama di tiga desa tersebut, karena tekstur tanah yang masih labil. Tanah longsor yang terjadi, kata dia, disebabkan oleh faktor alam dan faktor ulah manusia.

”Faktor alam, di mana kelabilan tanah, sehingga ketika hujan sering terjadi taah longsor. Sedangkan faktor ulah manusia, karena warga sekitar sering menggali tanah perbukitan untuk mencari fosil binatang atau manusia purba. Dari catatan sejarah, wilayah itu dulu kala merupakan lautan yang sekarang berubah menjadi daratan, sehingga banyak ditemukan fosil. Dan banyak warga masyarakat setempat yang memburu fosil,” tambahnya.

Menurut dia, lapisan tanah di wilayah itu terdiri dari tujuh lapisan. Kondisi tanah tersebut yang membuat labil tekstur tanahnya. Dia menyatakan, pihaknya akan mengupayakan bantuan kepada para korban.

trh

LOWONGAN PEKERJAAN
Tegar Transport Hotel Paragon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…