Kamis, 8 April 2010 22:26 WIB Pendidikan Share :

SMK Farmasi ajukan penambahan kuota

Solo (Espos)--SMK Farmasi mengajukan permohonan izin ke Dinas Kesehatan Jawa Tengah untuk menambah kuota jumlah siswa pada tahun ajaran baru mendatang, menyusul permintaan perusahaan terhadap lulusan farmasi meningkat.

Menurut Kepala SMK Farmasi Nasional Solo, Joko Kristianto Apt, meskipun pendaftaran penerimaan siswa baru dimulai pada tanggal 5 April hingga akhir bulan Mei mendatang, namun demikian pihaknya masih menunggu izin dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah terhadap permohonannya untuk menambah kuota jumlah siswa. Dia mengatakan, penambahan jumlah ruang dan kuota siswa hal itu dinilai masih sebanding dengan perbandingan tenaga pendidik yakni 1: 5.

“Rencananya tahun ini kami akan menambah satu ruang kelas dan kuota siswa sejumlah 40 orang,” jelas dia ketika dijumpai Espos di ruang kerjanya, Senin (5/4).

Dia mengungkapkan, permintaan lulusan farmasi di industri kerja setiap tahun mengalami grafik meningkat, sedikitnya setiap tahun dari sejumlah industri membutuhkan 200 lulusan sementara pihaknya hanya menyediakan 120 siswa.

“Pada pembelajaran kewirausahaan mereka terjun langsung praktek penjualan produk dan hal tersebut salah satu bekal siswa untuk bekerja,” jelas dia.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, setelah siswa melakukan ujian nasional dan ujian sekolah sejumlah perusahaan menawarkan secara langsung perekrutan siswa yang memiliki prestasi akademik. Dia mengatakan hal tersebut menguntungkan siswa karena peluang berkarir pada bidang farmasi tidak sebatas menjadi Asisten Apoteker tetapi mereka dapat menjadi Marketing Farmasi.

das

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…