Kamis, 8 April 2010 14:05 WIB News Share :

Markus Gayus, tangani kasus arwana

Jakarta – Komisaris Jenderal Pol Susno Duadji begitu yakin dengan keberadaan markus di Mabes Polri. Kata dia, markus yang menangani kasus Gayus Tambunan sama dengan yang menangani kasus perusahaan peternakan ikan arwana di Pekanbaru.

“Yang menangani kasus ini sama dengan yang menangani (kasus) ternak arwana di Pekanbaru, yang menurut saya itu perdata,” kata Susno saat bertemu dengan Komisi III DPR, Kamis (8/4), di gedung DPR, Jakarta.

Meski kasusnya perdata, kasus peternakan arwana itu dijadikan pidana sehingga ditangani kepolisian. Kasus arwana ini pun ditangani jaringan makelar kasus yang sama dengan yang menangani kasus Gayus. “Jaksa penyidik sama, “Kosasih”-nya sama, Mr X nya juga sama, katanya (Mr X) punya saham di situ,” ujar Susno.

Sayangnya, Susno masih menggunakan istilah Mr X untuk menyebut otak markus di Mabes Polri ini. Keengganan untuk menyebut nama ini ditanggapi sejumlah anggota Dewan.

Ahmad Yani dari PPP meminta Susno untuk berterus terang saja siapa yang dimaksud dengan Mr X. “Kita ini semua sudah tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Mengapa tidak diungkap saja di forum ini siapa sebenarnya Mr X,” kata Yani.

Pertanyaan serupa dilontarkan Bambang Soesatyo. Politisi asal Golkar mempertanyakan apakah yang di maksud Mr X oleh Susno adalah Syahril Johan ataukah jenderal bintang tiga di Mabes Polri.

Dalam keterangnya, Susno memang begitu yakin markus ada di Mabes Polri. Dia menceritakan suatu peristiwa yang memperkuat dugaannya itu. Ketika kasus Gayus Tambunan ditangani kepolisian, “Saya perintahkan Sespri saya untuk panggil Kosasih, dia datang, di belakangnya ada Edmond Ilyas, saya suruh dia keluar. Saya bilang saya mau bicara empat mata,” cerita Susno.

Ketika itu dia mencecar pengakuan Kosasih yang mengakui uang Rp 28 miliar di rekening Gayus sebagai uangnya. Ketika dicecar itulah Kosasih menyerah dan mengatakan bahwa pengakuannya tidak benar. Kosasih mengaku pengakuannya diatur Haposan Hitagalung. “Saya panggil Edmond, saya tanya apakah Anda terlibat? Dia tak bisa jawab,” cerita Susno lagi. “Dia hanya ketawa, seperti ada kekuatan yang kuat,” ujarnya.

Karena itulah Susno memerintahkan agar kasus Gayus dibuat dua berkas, yaitu perkara money laundry dan perpajakan. Dia mewanti-wanti Edmon agar jangan sampai kasus ini dipermainkan. “Ini akan saya pantau terus ke Arafat (salah satu penyidik di Mabes Polri),” kata dia.

Dia juga membantah bahwa dia ikut terlibat dalam kasus Gayus. “Saya terlalu berisiko jika main di dalam,” kata dia.

Tuduhan bahwa dia menerima uang Rp 5 miliar pun dibantahnya. Dia pun menyatakan siap diperiksa dalam kasus Gayus. Namun, “Saya belum pernah diperiksa untuk kasus ini, supaya saya bisa bantu,” kata dia.

Untuk sementara rapat antara Susno dengan Komisi di-break untuk istirahat makan siang. Rencananya rapat akan kembali dimulai sekitar pukul 13.30 WIB dengan mendengarkan jawaban Susno atas beberapa pertanyaan anggota Dewan.

Tempointeraktif/ tiw

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…