Kamis, 8 April 2010 15:39 WIB Kesehatan Share :

Balita bocor ginjal, ditolak berobat di RS

Tasikmalaya – Malang benar nasib Santi Saprila, 3 tahun, bocah keluarga miskin warga Kampung Anaka, Kelurahan Urug Kawalu, Tasikmlaya, Jawa Barat, setelah divonis menderita kebocoran ginjal. Pihak rumah sakit (RS) menolaknya untuk berobat jalan.

Meskipun daerah Urug terletak di wilayah Kota Tasikmalaya, namun untuk menempuh rumah anak malang tersebut mesti naik-turun gunung. Mereka tinggal di sebuah rumah kumuh.

Dede Cahyati, sang Ibu, Kamis (8/4), menuturkan, ia terpaksa merawat Santi seadanya sebab pihak rumah sakit tidak pernah memperhatikannya setiap kali ia berobat ke rumah sakit. Menurut Dede, derita mulai muncul saat Santi berusia dua tahun. Awalnya Santi hanya menderita demam tinggi selama beberapa hari.

Berbekal kartu Jamkesmas lantas anak pertama pasangan Dede Cahyani dan Sanusi ini dibawa ke RSUD Tasikmalaya untuk diperiksa. Setelah sepekan diperiksa dan dirawat akhirnya orang tua Santi dipersilakan untuk membawa anaknya pulang karena kondisinya yang mulai membaik.

Namun selang dua bulan kemudian penyakit tersebut kambuh lagi hingga Santi harus  dirawat selama satu bulan. Selama proses perawatan tersebut, dokter mulai menemukan gejala penyakit yang cukup berat yang dialami balita keluarga miskin tersebut. Salah satu ginjal Santi dinyatakan bocor hingga diperlukan perawatan yang  intensif.

Selama satu bulan penuh pasangan muda ini menemani buah hatinya untuk melakukan rawat inap di rumah sakit pemerintah daerah Tasikmalaya hingga akhirnya diperbolehkan pulang yang dilanjutkan dengan berobat jalan.

Namun sayangnya kedatangan orang tua Santi yang ketiga untuk melakukan pengobatan jalan anaknya mendapat rintangan petugas rumah sakit. Ia tidak diizinkan masuk dengan alasan surat rujukan yang dibawa Dede tidak lengkap.

Dede tidak mengerti sebab surat rujukan yang ia bawa dianggap sesuai dengan rujukan yang diberikan dokter yang memeriksa anaknya. “Saya tidak mengerti mereka minta rujukan yang mana lagi,” ujar Dede  sambil meneteskan air mata.

Akhirnya setelah upaya berobat di rumah sakit mentok, kini balita malang tersebut hanya dirawat seadanya oleh kedua orang tuanya sambil sesekali mengkonsumsi ramuan obat tradisional yang diberikan dari dukun-dukun kampung.

Hampir semua obat yang diberikan orang tuanya tak pernah Santi tolak. “Anak saya tidak rewel dengan obat,” katanya. “Sekarang saya sedang mencoba memberikan sari minuman dari kunyit besar.”

Dede menambahkan, anaknya saat didatangi tamu yang ingin menjenguknya, tanpa alasan yang jelas kerap menangis dengan keras. ”Anak saya seperti trauma ketika didatangi orang,” ungkap Dede dengan memelas.

Tempointeraktif/ tiw

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…