Rabu, 7 April 2010 22:32 WIB Ekonomi Share :

Dampak kenaikan TDL, Buruh tolak pemangkasan insentif

Solo (Espos)–Kalangan buruh bereaksi keras dengan wacana Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah yang akan memangkas insentif bagi karyawan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) jika tarif dasar listrik (TDL) tetap naik 15%.

Kebijakan tersebut dinilai sebagai kebijakan asal yang tidak memperhatikan sisi sosial kemanusiaan melainkan hanya orientasi bisnis. Seperti disampaikan Ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN) Solo, Hudi Wasisto.

“Seharusnya pengusaha tidak boleh seperti itu. Karena kebijakan itu sangat merugikan buruh. Insentif itu sangat signifikan menambah pendapatan buruh di samping gaji pokok. Semestinya, jika memang kenaikan TDL semakin membebani biaya operasional dan tidak ada lagi pos biaya yang bisa ditekan lagi, maka naikkan saja harga produknya,” tutur Hudi.

Jika kenaikan harga itu dilakukan oleh produk yang sama, lanjutnya, justru bisa meningkatkan daya saing produk dan tersebut.

Senada disampaikan Ketua Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) 1992, Suharno. Saat ditemui Espos, Rabu (7/4), Suharno mengatakan semestinya pengusaha mencari alternatif penyelesaian terhadap persoalan kenaikan TDL, dengan tidak memangkas hak karyawan.
SBSI pun menyesalkan sikap pengusaha yang selalu mengorbankan buruh jika ada kenaikan biaya produksi.

haw

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…