Selasa, 6 April 2010 20:21 WIB News Share :

Guruh samakan Mega seperti Soeharto

DENPASAR (Espos)- Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Guruh Soekarnoputra menilai majunya Megawati Soekarnoputri sebagai calon tunggal Ketua Umum PDIP pada Kongres III PDIP tidak ubahnya seperti mantan Presiden Soeharto yang selalu didorong orang dekatnya untuk maju.

Penilaian itu disampaikan putra Proklamator Bung Karno tersebut dalam satu acara konferensi pers di Hotel Segara Village yang terletak tidak jauh dari tempat penyelenggaraan acara Kongres PDIP. Berbeda dari konferensi pers yang digelar Megawati yang menunjukkan kekompakan keluarga Bung Karno sehari sebelumnya, Guruh tidak didampingi keluarga maupun fungsionaris partai.

Menurut Guruh , ketika berkuasa Presiden Soeharto selalu didorong-dorong orang-orang sekelilingnya untuk berkuasa kembali. Presiden tersebut akhirnya menyatkan berhenti setelah terjadi krisis ekonomi yang disertai kriris politik pada tahun 1998.

“Mbak Mega dijerumuskan seperti Soeharto. Mbak Mega diojok-ojok (didorong) jadi calon tunggal seperti zaman Soeharto,” kata Guruh.

Sebelumnya Guruh sempat diusung oleh empat Dewan Pimpinan Cabang untuk maju menjadi calon ketua umuam. Namun, beberapa hari terakhir menjelang Kongres, pencalonannya menjadi tidak berarti setelah hampir 99% pengurus partai mengajukan Megawati untuk tetap memimpin partai berlambang kepala banteng tersebut.

Guruh menjelaskan, pada tahun 1997 Soeharto kembali didorong menjadi calon tunggal Presiden RI. Padahal saat itu, Soeharto menyatakan dirinya sudah lelah dan ingin beristirahat.

“Beliau [Soeharto] malah sampai meminta Pak Harmoko mengecek apa benar daerah-daerah menginginkannya kembali. Pak Harto sudah capek, tapi diojok-ojokin terus. Saya rasa kondisi Mbak Mega kok ya mirip banget seperti zaman Soeharto,” kata Guruh.

Menurut Guruh, orang-orang di sekitar Megawati selalu mendorong dan memberi masukan bahwa daerah menginginkan kembali kakaknya menjadi Ketua Umum PDIP. Pada hal  berdasarkan penelusurannya hal tersebut tidak sepenuhnya benar.

“Setahu saya, daerah-daerah juga sudah banyak yang sudah legowo (Megawati lengser). Misalnya pimpinan diserahkan kepada generasi selanjutnya.  Dalam pengertian saya bisa mengukur banyak daerah yang memilih saya. Mereka bilang Mas Guruh saja yang meneruskan agar Mbak Mega bisa beristirahat,” ungkap Guruh.

Dalam perkembangan lain Kongres III PDIP telah memasuki tahapan penyampain Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Selanjutnya, kongres akan memutuskan menerima atau menolak LPJ tersebut.

Selain rapat-rapat komisi, Kongres juga akan menggelar seminar yang akan dimuluai  besok. Seminar akan membahas tema Partai Ideologis Berjuang untuk Kesejahteraan Rakyat, Membangun Kedaulatan Pangan’ dan ‘Ekonomi Kerakyatan dan Kesejahteraan Sosial, menurut informasi yang didapat dari panitia. (JBBI/htr)

lowongan pekerjaan
EDITOR MATEMATIKA (Fulltime), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….