Senin, 5 April 2010 17:52 WIB Kolom Share :

Bermula dari salah sangka...

Kadang dunia melihat sesuatu dimulai karena salah sangka…, kemudian pencarian menuju hakikatnya sebenarnya yang terjadi itu kayak apa!

Barangkali Copernicus, yang mencuatkan teori Heliocentris: Bumi berputar mengelilingi matahari, karena salah sangka. Bisa jadi salah sangka, atau salah duga, menjadi keyakinan umum, karena belum didukung banyak fakta baru untuk menolaknya.

Bermula dari Claudius Ptolomeus—bahwa bumi adalah pusat segala alam semesta—menurut fakta dan data saat itu.

Tapi ada salah sangka dan salah duga yang terkonstruksi—pejabat negara diposisikan terhormat. Strata di masyarakat amat kuat. Mereka yang sedikit ini dipercayai  lebih bermartabat, bahkan mendekati suci…Hingga sering mendapatkan sebutan priyayi atau priyagung, berkesan tak akan mengkhianati rakyat—yang berjumlah lebih banyak.

Salah sangka atau salah duga, juga salah kesimpulan, akan menjadi “kebenaran” tanpa nyali pemberontakan dalam mencari kebenaran yang (lebih) benar…, apalagi cemas dicap tak santun, atau tak etis—yang nota bene akhirnya membiarkan “kebenaran” yang keliru…
***

Sekitar 1970-an, kalangan sepuh di sejumlah kampung Pantura senantiasa bersaran agar polisi, hakim, jaksa dan petugas negara mesti dihormati, berkesan mutlak.  Keberadaan mereka ikut menjadikan aman kawasan Pantura yang terimbas ekses geger G-30-S/PKI, banyak maling, perampokan atau penjarahan hasil bumi.

Di sisi lain, nyaris dalam waktu yang bersamaan, ada kontradiksi, beberapa polisi minta jatah uang dari para penjudi dadu, atau dikenal sebagai upyuk atau kluthuk, yang marak di sepanjang Pantura…

Pertama,  ada konstruksi pemahaman bahwa polisi juga wajib mengamankan judi—sebagaimana mengamankan warga lainnya. Mengamankan, kemudian hari dipahami kalangan muda sambil tertawa, ternyata punya makna para penjudi dibiarkan aman dalam berjudi.

Kedua, judi saat itu menjadi  hal yang biasa, usai ritual sakral pun tetap saja dimainkan…Hingga saya dan kawan-kawan sebaya (berusia 8-9 tahun) saat itu meyakini hal yang lumrah—bukan hal salah, semua melakukannya…
***

Saya pun termasuk sebagian yang ikut salah sangka. Semestinya polisi, jaksa, hakim atau petugas (bisa dibaca: pejabat) negara wajib dihormati, jika menjalankan tugasnya secara benar, berintegritas dalam melayani dan melindungi masyarakat. Bukan dalam hal buruk, semestinya…

Kemudian era 1980-an, pengalaman membaca karya-karya inspiratif William Shakespeare—saya menemukan kutipan dalam karya dramanya, Henry VI…

Dick the Butcher, salah satu tokoh dalam kisah itu, bilang: The first thing we do, let’s kill all the lawyer, ketika konspirasi bersinggungan dengan kediktatoran Henry VI…Saat para pengacara lebih mengutamakan, jika tak pantas dikatakan takut, kekuasaan Henry VI—-hingga monarkhi absolut mendapatkan legitimasi kuat sekaligus menebar ketakutan yang penuh derita…

Drama ini sering dimainkan di sekolah-sekolah, atau teater yang tumbuh di sejumlah kota besar–saat ketidakadilan dan juga ketakberanian bersuara menjadi gambaran umum di negeri ini…
***

Lantaran situasi masih otoritarian masif, kalangan seniman dan aktivis saat itu pun sering memelesetkan kutipan itu menjadi: “Let’s kill all corrupted politician and bad government people…,” seraya ketawa agak tertahan karena takut. Saat itu, kritik terbuka sudah cukup untuk menjadi syarat memenjarakan seseorang.

Saat hakim, jaksa dan polisi—juga petugas pajak, terpeleset ke sejumlah kasus suap dan praktik curang—-kian mengukuhkan bahwa rahasia umum yang selama ini diyakini masyarakat itu sungguh benar adanya…

Tak ada kesempurnaan penuh, apakah yang berprofesi sebagai dokter, wartawan dan bidang lainnya, bisa saja ikut terseret ke praktik-praktik yang tak terhormat, karena godaan meraih impian secara instan…

Meluruskan salah sangka yang kuat dan sulit dihapuskan yang berlangsung lama, juga butuh keberanian, seperti dilakukan Copernicus  melalui teori barunya…

Apakah masih ragu mengajak “bunuh” salah satu atau beberapa di antara mereka yang besar dan benar-benar nakal, tanpa mesti merubuhkan kantornya? Sikat tikus yang gede, bukan membakar lumbungnya.

Jangan salah sangka: Ini mungkin hanya cara untuk melahirkan  aparat yang lebih bermartabat—-bukan yang berpretensi jadi malaikat…

YA Sunyoto
Wartawan SOLOPOS

lowongan pekerjaan
PT. BPR Bina Langgeng Mulia, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…