Senin, 5 April 2010 17:01 WIB Solo Share :

30% PJU di Solo rusak

Solo (Espos)–Sekitar 20-30% dari total penerangan jalan umum (PJU) di Kota Solo rusak secara teknis. Minimnya anggaran pemeliharaan PJU yang hanya mencapai Rp 200 juta atau hanya memenuhi 20% kebutuhan semakin memperparah kondisi tersebut.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Solo, Satriyo Teguh Subroto mengatakan banyaknya kerusakan PJU yang tidak diimbangi anggaran pemeliharaan membuat jumlah titik PJU yang kondisinya rusak bertambah dari tahun ke tahun. Dia mengakui, idealnya Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memang melakukan reformasi total terhadap puluhan ribu PJU di Solo. Sebab, bukan kondisi fisiknya saja yang kian buruk, pertumbuhan PJU yang tidak terkendali juga menjadi persoalan tersendiri.

“Reformasi seluruh PJU itu perlu. Tapi kondisi anggaran tidak memungkinkan. Dalam setahun, anggaran pemeliharaan untuk seluruh PJU itu hanya mampu memenuhi 20% kebutuhan saja. Kami harus pandai-pandai mendahulukan yang prioritas,” papar Satriyo, saat ditemui wartawan, di Balaikota, Senin (5/4).

Terkait pertumbuhan PJU, dia menjelaskan, DKP telah mendapat surat dari PLN agar tidak menambah jumlah titik PJU. Namun, kenyataannya, jumlah PJU terus bertambah, menyusul tingginya inisiatif masyarakat untuk menambah jumlah PJU dengan berbagai alasan.

Selain persoalan kerusakan PJU, DKP juga dihadapkan tingginya biaya listrik yang menjadi beban Pemkot atas penggunaan sekitar 16.000-an PJU yang tercatat tersebut.

Menurut Satriyo, Pemkot dibebani biaya listrik PJU hingga Rp 1,6 miliar per bulan. Sebenarnya, pemakaian listrik PJU dapat ditekan dengan memberlakukan model meterisasi pada PJU. Dengan cara tersebut, pemakaian listrik PJU dapat diukur secara tepat, sesuai dengan besarnya pemakaian.

Satriyo menyebut, berdasarkan kajian pihaknya, penggunaan sistem meterisasi dapat menghemat biaya listrik hingga Rp 600 juta per bulan.
“Saat ini baru 30% yang telah dimeterisasi. Jika seluruh PJU sudah dimeterisasi, kita bisa hemat Rp 600 juta per bulan,” tandasnya.

Terkait upaya meterisasi, Rabu (31/3) lalu, sebuah perusahaan memberikan penawaran meterisasi untuk PJU yang masih dioperasikan dengan sistem lama di Solo. Sasaran perusahaan bernama PT Angkasa Buana Cipta tersebut adalah meterisasi pada 11.240 titik PJU di Solo.
Kendati demikian, menurut Satriyo, perusahaan tersebut baru sebatas pengenalan dan belum bicara pada persoalan nilai investasi.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Budi Suharto menyebut, langkah pihaknya untuk menerapkan materisasi PJU ditujukan agar biaya pemakaian listrik PJU lebih terperinci.

tsa

LOWONGAN PEKERJAAN
SUPERVISOR JAHIT & PENJAHIT HALUS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…