Minggu, 4 April 2010 17:42 WIB Kesehatan Share :

Waspadai sindroma metabolik!

Dokter yang terhormat,
Saya laki-laki berusia 38 tahun dengan berat badan 80 kg. Dari hari ke hari, saya rasa, nafsu makan saya semakin meningkat. Saya mudah capek dan mengantuk. Tiap pagi, kaki dan tangan saya sering kesemutan dan tekanan darah saya cenderung tinggi. Saya termasuk perokok berat. Kata teman-teman, saya mengalami gangguan metabolisme atau sindroma metabolik. Apakah sebenarnya sindroma metabolik itu? Apa gejalanya dan pencegahannya?
Hendri, Sukoharjo

Bapak Hendri yang terhormat,
Sindroma metabolik adalah serangkaian gejala yang terdiri atas obesitas, peningkatan tekanan darah, peningkatan glukosa darah dan dislipidemia. Sindroma metabolik berhubungan dengan rasial, etnik dan obesitas abdominal.
Jika diacu definisi organisasi kesehatan dunia, WHO, sindroma metabolik antara lain terdiri atas:
1. Obesitas atau kegemukan yang ditandai:
a. Body mass index (BMI) >30 kg/m2 dan atau
b. Waist hip ratio (WHR) >0,9 (laki-laki) & > 0,85 (wanita)
2. Tekanan darah >140/>90 mmHg
3. Glukosa darah puasa
a. Gangguan toleransi glukosa
b. Diabetes melitus
4. Mikroalbuminuria (albumin exretion rate (AER) > 20 g/dl)
5. Trigliserid > 150 mg/dl
6. HDL-kolesterol
a. <35 mg/dl (laki-laki)
b. <39 mg/dl (wanita)
Ada pula gejala–gejala lain, seperti peningkatan APO B, homosistein, CRP, HsCRP, asam urat, mikroalbuminuria. Risiko juga meningkat pada orang yang merokok serta memiliki lingkar pinggang >90 cm (laki-laki) dan > 80 cm (perempuan) serta bergaya hidup tidak aktif bergerak badan.
Penelitian menunjukkan, bahwa kecenderungan ini memang banyak dijumpai. Namun penyebab sindroma metabolik  masih belum jelas. Menurut pendapat Tenebaum (2003), sindroma metabolik adalah gangguan fungsi sel dan hipersekresi insulin untuk mengompensasi resistensi insulin. Hal ini memicu terjadinya komplikasi makrovaskuler, misalnya komplikasi jantung. Tenebaum juga mengartikannya sebagai kerusakan berat sel yang menyebabkan penurunan progresif sekresi insulin, sehingga menimbulkan hiperglikemi. Hal ini menimbulkan komplikasi mikrovaskuler, seperti nephropathy diabetica.
Penanganan terhadap sindroma metabolik difokuskan pada pengaturan gaya hidup dan terapi terhadap kasus perorangan, misalnya dislipidemia, diabetes melitus dan hipertensi. Pencegahan metabolic syndrome yang tepat adalah dengan memodifikasi pola hidup sehat.
Hal itu antara lain dilakukan dengan melakukan medical check-up, khususnya bagi yang berusia di atas 50 tahun atau memiliki faktor risiko penyakit jantung koroner. Bisa pula dengan berolahraga secara teratur, misalnya dengan berjalan, berenang, melakukan aktivitas rumah tangga, berkebun, selama paling tidak 30 menit sehari. Juga dengan menurunkan berat badan menuju berat badan ideal, diet rendah kalori, mengurangi asupan gula, meningkatkan asupan serat, mengendalikan kolesterol darah dengan diet, serta menurunkan tekanan darah bagi penderita hipertensi.
.
Dr Dyah Anggraeni MKes SpPK

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…