Kaus
Minggu, 4 April 2010 14:17 WIB Women Share :

Kostum orisinal tim PD masih impian

Espos/Ratna Puspita Dewi Kaus—Kaus 2010 FIFA World Cup South Africa dengan beragam warna, di Kurokuroku Lantai Dasar Solo Grand Mall. Kaus tim nasional peserta PD juga banyak diburu para penggila bola

Sepak bola adalah olahraga fenomenal. Betapa tidak? Olahraga yang mempertontonkan aksi 22 orang rebutan bola ini senantiasa mampu membius seluruh dunia. Penggemar olahraga ini bahkan mungkin jauh lebih banyak daripada penggemar sang Raja Pop, Michael Jackson.

Apabila Anda penggemar sepakbola, momentum Piala Dunia pasti jadi momentum empat tahunan yang paling ditunggu. Persiapan menyambut ajang bergengsi itu tak cukup hanya dengan memborong merchandise Piala Dunia, mulai dari gantungan kunci, kartu remi hingga boneka. Beberapa pengemar fanatik malah juga mulai melengkapi diri dengan atribut pemain dari tim favorit mulai dari kaus, topi, syal hingga hiasan tempel bernuansa olahraga fenomenal ini.

“Pertandingan Piala Dunia paling seru kalau disaksikan bersama teman-teman. Meski hanya menyaksikan dari layar kaca, kami juga sering melengkapi diri dengan atribut tim jagoan masing-masing. Jadi meski jauh atmosfernya tetap terasa,” ungkap Rudi, warga Panularan, Laweyan, Solo, yang mengaku sebagai penggemar fanatik sepakbola.
Kebiasaan berburu kaus tim jagoan ini rupanya disadari betul oleh para pelaku bisnis atribut olahraga. Seperti yang dilakukan toko peralatan olahraga, All Pro di Solo Square, meskipun mengaku belum memajang kaus tim nasional para peserta Piala Dunia, pihak pengelola All Pro memastikan bakal menyiapkan koleksi kaus tim peserta Piala Dunia. “Kaus untuk wanita biasanya juga akan datang. Wanita penggemar sepakbola kan juga banyak,” kata Pras, supervisor store di All Pro.

Wajarlah, apabila sejak beberapa pekan lalu, Rudi mulai sibuk berburu berbagai atribut tim nasional Brazil, mulai dari kaus, syal, hingga stiker dan poster tim nasional Brazil. Ia berharap semangatnya ini juga dirasakan oleh tim pujaan. Bukan cuma berburu atribut tim favorit, persiapan nonton Piala Dunia juga diisi Rudi dengan memilih lokasi yang paling nyaman untuk menyaksikan Piala Dunia.
Kriteria lokasi yang nyaman ini ternyata sederhana, yaitu tempat luas yang dilengkapi dengan layar televisi yang besar. “Andai punya banyak uang, kami mungkin akan berburu televisi berlayar besar agar bisa puas menyaksikan pertandingan. Tapi, berhubung budget terbatas, nontonnya dilakukan di rumah teman yang punya televisi paling besar saja,” ucapnya tergelak.
Tak lupa, ia mengaku juga melakukan persiapan fisik untuk menyambut Piala Dunia. Bukan rahasia, selisih waktu antara tempat penyelenggaraan Piala Dunia dan Indonesia seringkali memaksa para penggemar sepakbola untuk bergadang menyaksikan pertandingan.

Tak heran, tiap kali ajang ini berlangsung ada saja pegawai yang terlambat masuk kerja karena tidur terlalu larut. Hebatnya, alasan menyaksikan Piala Dunia justru kerap dimaklumi. “Saat Piala Dunia sebelumnya, saya sering terlambat masuk kuliah. Untungnya dosen tak pernah marah kalau saya menyampaikan alasan keterlambatan lantaran nonton Piala Dunia,” kenang Rudi lagi.

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…