Minggu, 4 April 2010 17:45 WIB Kesehatan Share :

Hiperkolesterol tak pilih kasih, serang yang kurus ataupun gendut

Mentang-mentang Anda kurus, lantas dikira Anda bebas dari risiko hiperkolesterol? Wah, itu anggapan keliru. Hiperkolesterol tak pernah pilih kasih. Orang kurus pun bisa mengalaminya.
Memang sih, orang dengan obesitas alias kegemukan punya faktor risiko hiperkolesterol yang lebih besar, lantaran tumpukan lemak yang tak terurai sempurna. Namun dalam beberapa kasus, orang kurus pun bisa terkena hiperkolesterol. Hal itu mungkin terjadi apabila dalam keluarga ada riwayat hiperkolesterol, gangguan metabolik lain seperti diabetes melitus dan hipertensi, atau kelainan fungsi ginjal.
“Ada kasus kelainan ginjal berupa kebocoran protein. Jadi protein yang dibutuhkan tubuh malah dibuang, padahal protein tersebut diperlukan untuk proses metabolisme. Nah, sebagai kompensasinya, tubuh merespons kekurangan protein itu dengan menyintesis lemak. Alhasil kadar lemak pun meningkat melebihi batas normal,” kata dr Aswin Wikantama dari RS PKU Muhammadiyah Solo.

Jadi, apabila pemeriksaan kolesterol Anda sudah menunjukkan angka diatas 200 mg/dL, bersiaplah untuk memodifikasi pola hidup Anda. Kurangi asupan makanan kaya lemak seperti jeroan, makanan bersantan, dan kuning telur. Tak banyak orang yang tahu, telur burung puyuh ternyata memiliki kadar kolesterol yang cukup tinggi yaitu 3.640 mg per 10 gram. “Selama ini banyak orang menganggap telur sebagai makanan aman, padahal tidak selalu begitu. Buktinya, telur burung puyuh tercatat sebagai makanan dengan kadar kolesterol tertinggi,” timpal dr Tatuk Himawan dari RS Kasih Ibu Surakarta.
Perbanyaklah makanan kaya serat seperti sayuran, buah dan oatmeal. Makanan berserat, efektif mengurangi kadar LDL karena kemampuannya mengikat lemak makanan saat meluncur di saluran pencernaan. Alhasil, lemak yang dimakan tak seluruhnya terserap oleh tubuh sehingga kadar LDL tetap terjaga.

Selain mengatur pola makan, olahraga teratur juga jadi cara ampuh mengontrol kadar kolesterol darah. “Tapi bukan sembarang olahraga. Olahraga yang baik adalah olahraga yang kontinyu dan dilakukan selama 30 menit hingga satu jam,” ungkap dr Aswin.

Olahraga seperti joging, jalan cepat, bersepeda dan senam adalah jenis olahraga yang disarankan bila Anda ingin menurunkan kadar kolesterol. Olahraga dengan ritme teratur seperti ini dinilai lebih efektif membakar lemak ketimbang olahraga permainan seperti tenis atau sepakbola. Durasi 30 menit atau lebih dianggap waktu yang ideal. Pasalnya, menurut beberapa penelitian, selama 20 menit pertama olahraga, tubuh hanya akan membakar cadangan karbohidrat. Baru di menit ke 30, tubuh mengambil cadangan lemak untuk diubah menjadi energi.

lowongan kerja
SOCIAL KITCHEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….