Kamis, 1 April 2010 17:32 WIB Sport Share :

Sirkuit Sepang dinilai sudah tak layak

Kuala Lumpur–Persiapan Malaysia menggelar seri 3 Grand Prix Formula One (F1) pada akhir pekan ini mendapat sedikit gangguan. Sirkuit Sepang yang akan menjadi medan perang jet darat dianggap mulai tak layak pakai.

Sirkuit Internasional Sepang merupakan hamparan lintasan balap mobil F1 pertama yang didesain bergelombang. Sirkuit dengan jumlah total 15 tikungan ini didesain oleh insinyur Jerman, Hermann Tilke.

Sirkuit yang resmi dibuka pada 1999 silam ini telah menggelar beberapa event balap internasional. Dan dalam perjalanan hampir 12 tahun sejak upacara peresmian, kualitas lintasan di Sepang mulai memburuk.

Tak baiknya kondisi sirkuit kebanggan warga Negeri Jiran ini juga diakui ketua pengelola Sepang, Razlan Razali.

“Kami butuh perbaikan di beberapa bagian sirkuit,” ujar Razali kepada F1-live, Kamis (1/4).

Selain permukaan lintasan yang mulai rusak, atap tribun unik di Sepang juga mulai mengalami kerusakan parah karena cuaca.

“Membran atap dari bangunan utama mulai tak layak digunakan dan harus diganti. Trek kami juga perlu disamakan seperti di Shanghai dan Bahrain,” tambah Razali.

Razali sendiri mengungkapkan untuk merenovasi Sirkuit Sepang, pihaknya membutuhkan dana lebih dari 60 juta dolar AS. Namun, ia juga menegaskan jika yang menjadi prioritas saat ini adalah area paddock. Rizal menambahkan jika renovasi tak dilakukan maka masa depan Sepang mungkin hanya bertahan empat hingga lima tahun lagi.

Pemerintah Malaysia sendiri sebenarnya memperlihatkan antusiasme untuk melakukan pembenahan. Kembalinya tim Malaysia, Lotus Formula 1 menjadi alasan paling realistis bentuk dukungan pemerintah.

Sebenarnya kritikan terhadap Sepang juga pernah dilontarkan Presiden F1, Bernie Ecclestone. Beberapa bagian sirkuit dianggap kurang pas, termasuk kesulitan siaran televisi mengambil angle yang tepat.

vivanews/fid

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…