Selasa, 30 Maret 2010 15:13 WIB Ah Tenane Share :

Tahu petaka

Saat pulang ke Boyolali, Jon Koplo yang kuliah di Semarang ini naik bus jurusan Semarang-Solo. Di sampingnya duduk seorang cewek, sebut saja Lady Cempluk yang  sedari tadi klomat-klemet asyik makan kue sendiri.

Sebenarnya Koplo pengin mengajak omong tapi bingung mau ngomong apa. Akhirnya ia cuma bisa lirak-lirik sambil menelan ludah.
Ketika ada pedagang asongan naik bus, Koplo langsung membeli sebungkus tahu kempong. Dan untuk menarik perhatian si cewek yang sedari tadi pamer makanan, Koplo gantian pamer kesaktian. Lombok-lombok yang ada di dalam plastik tahu kempong itu ia makan sekaligus.

”Lho Mas, kok lomboknya dimakan semua, apa nggak kepedasan?” tegur Cempluk yang gumun melihat tingkah Koplo. Merasa diperhatikan, Koplo pun menyahut, ”Walah, ini nggak seberapa, Mbak. Kalau saya makan di rumah, sambelnya melebihi nasi atau sayurnya. Saya memang maniak pedas,” katanya nggedebus.
”Lha apa mulutnya nggak perih kepedasan?”
”Ya enggaklah. Ini memang ada mantranya supaya orang tahan pedes,” katanya makin umuk.
Ndilalah tanpa ia sadari, saat Pak Kondektur bernama Tom Gembus lewat, tahu yang ada didalam genggamannya kesenggol tangan Gembus dan jatuh ke lantai bus. Celakanya, di belakang Gembus lewat pula seorang penumpang bernama Gendhuk Nicole yang tanpa sengaja menginjak sebungkus tahu yang masih utuh tersebut. ”Eh, sori ya Mas, nggak sengaja,” kata  Gendhuk langsung ngacir keluar dari bus.

Karuan saja jatuhnya tahu yang belum jadi diemplok tadi bikin Koplo gebres-gebres kepedasan. ”Lho katanya tahan pedas, Mas? Kok megap-megap,” goda Cempluk.
”Sss… hah… Siapa bilang? Saya masih tahan kok, cuma anyel saja, tahu saya sudah nggak bisa dimakan,” jawabnya menutupi malu.
”Nih, tak kasih minum, biar nggak glagepan begitu,” kata Cempluk menyodorkan air mineral gelas.
Apa boleh buat, dari pada tersiksa mempertahankan gengsi lebih baik kisinan.

Kiriman R Sunartono, Gagak Sipat RT 03/RW III, Ngemplak, Boyolali

lowongan pekerjaan
Kepala Produksi, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…