Selasa, 30 Maret 2010 17:43 WIB Solo Share :

Solo potensial penyuplai, transit, dan penerima trafficking

Solo (Espos)–Kota Solo selama ini memiliki tiga peran dalam kasus trafficking anak-anak di bawah umur. Selain potensial sebagai kota transit, kota berjulukan Bengawan ini rupanya juga menjadi kawasan yang sangat empuk sebagai penyuplai dan penerima perdagangan anak-anak.

“Sebagai kota transit, kami sudah kerap menemukan anak-anak dari luar Solo yang akan dikirim ke daerah lain. Begitu pun sebagai penyuplai maupun penerima, Solo juga sangat potensial. Karena, ketiga-tiganya memang kami temui semua kasusnya,” ujar pegiat LSM Kakak yang konsentrasi pada perlindungan terhadap anak-anak, Fajar Yulianto kepada wartawan di sekretariatnya, Selasa (30/3).

Menurut Fajar, kasus trafficking anak-anak di bawah umur terus merangkak naik di Kota Bengawan ini. Dia menyebutkan, selama tahun 2009 hingga awal tahun 2010 ini, pihaknya telah menangani kasus anak-anak yang mengalami eksploitasi seksual dan komersial anak sebanyak 40 jiwa. Sedangkan, pada kasus anak-anak yang mengalami kekerasan fisik dan psikologi mencapai 39 anak.

“Rata-rata anak sebagai korban atas perkembangan kota yang terus bersolek. Mulai diskotek, kafe-kafe, hotel-hotel, dan hiburan-hiburan malam,” paparnya.

Pada kasus kekerasan di sektor pendidikan dan korban pemberitaan, kata Fajar, juga kerap membuat anak-anak tak bisa bangkit. Menurutnya, kekerasan terhadap anak-anak pada sektor tersebut sudah sering terjadi dan belum ada penanganan yang optimal dari Pemkot Solo.

asa

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…