internet
Minggu, 28 Maret 2010 14:30 WIB Women Share :

Waralaba, Solusi bagi pebisnis pemula

Prospek cerah—Bisnis ritel dan kuliner diprediksi masih memiliki prospek cerah untuk dikembangkan dalam format waralaba. Alfamart dan Indomaret adalah dua dari pemain utama dibidang ritel minimarket. Espos/Ratna Puspita Dewi

Saat Panitia Khusus (Pansus) Century DPR sibuk berdebat mengenai dampak sistemik krisis global, sebagian kalangan makin bergairah terjun ke dunia usaha. Entah lantaran dorongan semangat berwira usaha atau kepepet karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan di perusahaan impian, yang jelas semangat berwirausaha kian hari memang kian tumbuh subur seiring menjamurnya bisnis rumahan dan bisnis berskala kecil lain.

Sayangnya, tak semua berakhir indah. Setiap saat, ada saja cerita soal pebisnis pemula yang terpaksa gulung tikar. Maklum saja, dunia bisnis memang penuh risiko. Salah langkah sedikit, bukannya untung tapi bisa buntung.

Berbisnis memang gampang-gampang susah, harus pandai melihat peluang, menjaga kepercayaan pelanggan dan yang lebih penting lagi giat berinovasi sehingga bisnis kian berkembang dan memberi keuntungan yang lebih besar. Rumitnya, pengetahuan ini tak seluruhnya bisa dipelajari di bangku sekolah atau perkuliahan. Agar lihai berenang tak cukup hanya dengan mempelajari teori bukan? Pelakunya harus berani terjun ke air.

Sebagian besar pengusaha ternama menghabiskan waktu mereka untuk menciptakan produk yang laku jual, merancang sistem kerja dan membentuk citra produk. Beberapa dari mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan tidak sedikit pula yang menghabiskan belasan tahun atau puluhan tahun untuk merancang itu semua. Nah, siapkah Anda dengan semua itu?
Kalau belum, format bisnis waralaba (franchise) mungkin bisa jadi solusi. Sejak kali pertama diperkenalkan di Amerika pada akhir abad XIX, format bisnis ini mengalami perkembangan dan modifikasi hingga akhirnya meluas ke seluruh dunia. Di Indonesia, format waralaba mulai dikenal sekitar tahun 1980-an, bersamaan dengan masuknya berbagai restoran cepat saji ala Amerika Serikat.
Minim risiko

“Waralaba menjadi cara yang relatif mudah untuk memulai bisnis karena tak perlu repot membangun sistem dan promosi, cukup mengadopsi sistem dari si pewaralaba. Dan bisnis siap dijalankan,” kata Retno Tanding Suryandari ME, pemerhati bisnis yang juga dosen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Solo memang tak luput dari serbuan produk yang dikembangkan melalui waralaba.

Tengok saja bagaimana jasa minimarket seperti Alfamart, Indomaret atau Assgros bermunculan di mana-mana. Lalu hadir pula Klenger Burger asal Jakarta, Kebab Turki Baba Rafi dari Surabaya hingga waralaba laundry seperti Simply Fresh asal Yogyakarta. Semuanya melebarkan sayap melalui sistem waralaba. Maka wajar saja apabila sistem kemitraan semacam ini banyak dipilih.
Bagi pemberi waralaba (franchisor), konsep ini memberi peluang untuk mengembangkan usaha, memperluas pasar tanpa sokongan modal yang terlalu besar. “Pemberi waralaba punya kepentingan untuk melakukan ekspansi dan menutup pasar agar tak banyak diisi oleh pesaing,” timpal Retno.

Sementara itu, bagi penerima waralaba (franchisee) konsep ini juga menguntungkan karena memperkecil risiko kegagalan. “Penerima waralaba tak perlu repot berpromosi karena masyarakat sudah cukup familier dengan produk yang ditawarkan, dengan begitu ada jaminan bahwa produknya diminati pasar,” sebut dia.

Sistem kemitraan ala waralaba tak hanya menggoda para franchisee untuk membuka outlet di Solo, beberapa pengusaha asal Solo pun kini mulai mengembangkan usahanya keluar daerah dengan sistem yang sama. Sebut saja Donutboyz dan The Bizztro yang besar di bawah bendera Choice Plus Indonesia, lalu ada pula Nakamura, Quantum Magz and Comic Rental, Movie Time serta lembaga bimbingan belajar Matematika Dahsyat.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas

lowongan pekerjaan
PT.MITRA PINASTHIKA MUSTIKA FINANCE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…