Minggu, 28 Maret 2010 14:55 WIB Kuliner Share :

Tendangan masakan padang tak terhalang jarak

Antara Solo dan Padang dipisahkan sebuah selat dan jarak ribuan kilometer. Namun, itu toh tak lantas jadi halangan warga Solo untuk menikmati rasa pedas yang menantang dari aneka jenis masakan padang.

Karakter masakan khas Sumatra Barat ini sejatinya jauh berbeda dengan selera sebagian besar warga Solo yang tak tahan pedas. Masakan padang, apapun menunya, tak lepas dari tambahan cabai. Rasanya? Ya jelas pedas!
Yang mengherankan, meskipun seluruh menunya tak jauh-jauh dari cabai yang membuat dahi berkeringat saat disantap, peminat masakan padang di Solo seolah tak pernah surut. Bahkan, popularitas menu masakan padang boleh dibilang bersaing dengan makanan milik tuan rumah, yaitu masakan khas Jawa.
Karena itu, sama sekali bukan perkara sulit menemukan restoran padang di Kota Solo. Di Jl Slamet Riyadi saja tercatat ada tiga restoran Padang yang nyaris tak pernah sepi pengunjung, Mulai dari Sederhana, Restu Bundo serta Denai.

Belum lagi apabila ditambah warung nasi padang di kawasan Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), serta warung padang di kawasan lain kota. Jumlahnya mungkin mencapai puluhan.

Menu yang ditawarkan tiap restoran dan warung padang tak jauh berbeda. Sejumlah menu wajib yang dapat ditemui adalah rendang, gulai ayam, gulai ikan, ayam balado, cincang, ayam pop dan telur balado. Hampir semua menu makanan berkuah yang tersaji selalu menggunakan santan.
Konon, santan dan cabai adalah bahan utama yang dipakai pada sebagian besar makanan padang. Meski jadi bahan wajib, santan dan cabai rupanya bukan satu-satunya resep rahasia kenikmatan masakan padang. Kekayaan bumbu dari aneka rempah membuat cita rasa masakan padang menjadi nendang di lidah pencicipnya.
“Masakan padang itu kaya bumbu. Dalam satu masakan saja bisa memakai lebih dari 15 jenis rempah. Karena itu, rasanya membuat banyak orang kecanduan,” kata Masriyanto, karyawan Rumah Makan Padang Restu Bundo.

Betul juga, satu seruputan kuah gulai ayam, rasanya sudah mampu bercerita banyak. Rasa gurih, manis, asin dan pedas berbaur menjadi satu menimbulkan sensasi yang luar biasa di lidah. Indra perasa pun sudah cukup terpuaskan meskipun daging ayam belum lagi sempat terkunyah.
Gulai kepala ikan kakap juga tak kalah nikmat. Bahkan, hidangan itu menjadi salah satu menu favorit meskipun minim daging. ”Lebih nikmat lagi bila disantap dengan sambal hijau dan lalapan daun singkong rebus,” ujar pengelola Duta Rasa Jl A Yani Gilingan, Nanda Eka Putra.

Belum lagi rasa kuah menu cincang yang lebih didominasi rasa pedas, terasa begitu menggoda. Menyantapnya, mulut serasa terkunci tak mampu lagi menikmati rasa masakan lain.
Walau banyak hidangan tersaji, primadona masakan Padang tetap jatuh kepada rendang. Cita rasa hidangan daging sapi yang diolah dengan santan dan racikan puluhan rempah ini sungguh sebanding dengan kerumitan pengolahan masakan khas Padang ini.

Rendang sang primadona
”Di Padang, memasak rendang membutuhkan waktu hingga lima jam. Jadi bumbu bisa meresap sempurna, dagingnya empuk tapi tidak hancur,” kata Ny. Idrawati Nasrul pemilik RM Denai di Jl Slamet Riyadi 248, Solo.
Rahasia kenikmatan rendang yang juga kondang hingga ke mancanegara ini tak hanya terletak pada perpaduan rempah, tetapi juga pada teknik memasaknya yang cukup njlimet dan membutuhkan kesabaran ekstra. Bayangkan untuk mendapatkan keempukan daging yang pas, daging rendang harus dimasak dalam api kecil berjam-jam sambil terus diaduk agar tak menimbulkan kerak pada wajan.
“Orang Padang zaman dulu memasak rendang dengan sabut kelapa sehingga api yang dihasilkan lembut, panasnya pas dan stabil sehingga daging tak mudah gosong,” timpal Ny Idrawati lagi.
Dengan teknik pemasakan seperti itu rendang bukan saja terasa nikmat tapi juga tahan lama. Konon jemaah haji asal Padang kerap membawa rendang sebagai bekal karena rendang mampu bertahan berminggu-minggu tanpa dipanasi ulang. Hebat bukan? Pantas saja bila pakar kuliner William Wongso menilai rendang layak dijadikan representasi kuliner Indonesia di kancah internasional.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas, Fetty Permatasari

lowongan pekerjaan
PT. Jaya Sempurna Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…