Minggu, 28 Maret 2010 14:47 WIB Kuliner Share :

Tanpa santan tetap kaya rasa

Santan ibarat bahan wajib dalam berbagai menu berkuah di Padang. Penambahan bahan yang satu ini membuat masakan padang identik dengan hidangan berlemak yang memang membuat lidah bergoyang. Namun, tak semua orang suka dengan hidangan yang konon bisa menambah bobot tubuh ini.
Eits, tapi jangan salah! Tak semua hidangan berkuah di Padang memanfaatkan santan. Ada juga makanan berkuah yang bening namun tetap kaya rasa. Kalau tidak percaya coba saja soto padang di RM Denai.

Isi soto ini sebenarnya sederhana, tak banyak beda dengan soto dari daerah lain. Disajikan di mangkuk sedang, isi soto terdiri dari suun (mi putih), ditambahkan perkedel kentang, taburan irisan seledri, bawang goreng, remahan kerupuk merah serta dendeng sapi yang garing.
Soto ini baru terlihat berbeda saat dituang kuah soto yang agak keruh dan sedikit berminyak. “Itu karena bumbunya ditumis dulu sebelum campur dalam kuah,” terang Ny Idrawati Nasrul, pemilik RM Denai.

Ketika diendus, aroma rempah sebenarnya tidak terlalu terasa, wajarlah bila si penikmatnya tak memiliki ekspektasi berlebih. Begitu dicoba,  ternyata rasanya cukup mengejutkan. Paduan rempah dalam kuah bersinergi dengan apik membentuk rasa baru yang memanjakan lidah. Gurih, jadi rasa yang cukup dominan.
Tapi permainan rasa soto rupanya tak berhenti sampai di situ, saat kuah soto bertemu dengan dendeng sapi tipis yang renyah, ada sensasi makanan khas yang lengkap. Krenyes tapi mulus dikunyah. Ada sedikit rasa asin dari dendeng, tapi hanya sempat menyeruak sedikit saja karena langsung tergantikan dengan rasa pedas dan gurih dari kuah soto.
Lamak bana!

Kalau beruntung, Anda juga bisa menemui sensasi rasa yang sedikit berbeda saat lidah memamah daun seledri yang berpadu kuah soto. Ada sedikit rasa asam daun jeruk pada kuahnya. Hmm, rugi rasanya bila tak menyantap soto padang hingga tetes terakhir. Amboi lamak bana! (enak sekali dalam bahasa padang-red)
Ada satu lagi menu masakan padang yang tak boleh luput dicoba yaitu sate padang. Tidak seperti kebanyakan sate yang menggunakan bumbu kecap dan daging ayam atau daging kambing, sate padang menggunakan daging dan jeroan sapi dengan kuah kental yang, lagi-lagi, pedas. Penyajiannya pun berbeda dengan sate lain.

Alih-alih dioleskan saat daging dibakar, bumbu kental tersebut malah dituangkan diatas daging yang telah dibakar seadanya. Tak ada rasa aroma hangus khas sate, karena daging sapi tak benar-benar dibakar. “Sebelum dibakar, daging sudah diolah dengan bumbu hingga matang. Proses pembakaran hanya untuk memanaskan daging,” tutur Warsito, supervisor waiter di RM Sederhana.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas, Fetty Permatasari

lowongan pekerjaan
PT Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…