Minggu, 28 Maret 2010 14:13 WIB Women Share :

Kuliner tak ada matinya

Bisnis makanan rupanya masih dinilai sebagai bisnis berprospek cerah. Hobi makan orang Indonesia jadi alasan kuat penilaian itu. “Kebanyakan orang Indonesia hobi makan dan suka mencoba makanan baru. Menurut saya, bisnis di bidang kuliner memang tak ada matinya, “ ujar pemerhati bisnis Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Retno Tanding Suryandari ME.

Peluang ini jelas tak disia-siakan, tak heran kalau bisnis kuliner jadi pilihan utama para franchisee untuk memulai usaha. Di awal perkembangan waralaba di Indonesia, bidang ini didominasi oleh merk kuliner asing. Sebut saja McDonald’s, Kentucky Fried Chicken (KFC) atau Pizza Hut. Tren makanan asing ini berkembang pesat dan sempat merajai waralaba kuliner di Indonesia.

Tapi kini, tren mulai bergeser. Merk kuliner lokal mulai unjuk gigi, mengambil alih dominasi merk asing. Tengok saja antrean pengunjung di gerai J.Co, Kebab Turki Baba Rafi, Donutboyz dan di beberapa gerai makanan lokal lain. Menyusul, beragam jenis dan merk makanan produksi anak bangsa pun bermunculan bak jamur di musim penghujan. Hal ini jadi bukti bahwa merk lokal mulai dapat tempat di masyarakat.

Respons masyarakat terhadap produk kuliner lokal ini jelas mengiurkan para pebisnis pemula untuk memulai usaha. Itu pula alasannya, waralaba di bidang kuliner selalu jadi favorit para pebisnis. Namun, Retno berpendapat waralaba kuliner tak selalu bermasa depan cerah. “Orang Indonesia memang suka mencoba makanan baru, tapi mereka juga mudah bosan,” timpal dia.
Itu sebabnya bisnis kuliner sangat rentan terhadap perubahan selera pasar yang sangat mungkin berganti dalam waktu singkat. Bisa saja di bulan ini, masyarakat tergila-gila dengan burger, tapi di bulan berikutnya justru kebab yang jadi incaran. Kalau sudah begitu, hanya ada satu solusi, yaitu inovasi tiada henti.

Modifikasi rasa atau penambahan menu bisa jadi cara jitu untuk menarik kembali pelanggan yang sudah bersiap beranjak pergi. Pasalnya, dalam kesepakatan waralaba, franchisee kerap terikat untuk mematuhi aturan yang dibuat oleh franchisor, termasuk dalam variasi menu dan modifikasi rasa.

“Sayangnya, tak semua franchisor jeli dengan perubahan selera masyarakat. Alhasil, banyak produk tak mampu bertahan lama karena ditinggalkan pembeli.” Hal ini, lanjut dia, harus dipertimbangkan masak-masak oleh pebisnis yang berniat membeli hak waralaba.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas

lowongan peekrjaan
PT. Integra Karya Sentosa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…