Minggu, 28 Maret 2010 14:15 WIB Women Share :

Kesepakatan bersama

Dalam bisnis konvensional sulit rasanya memberi kepercayaan kepada orang tak dikenal untuk mengelola usaha yang telah dibangun dengan peluh dan darah. Salah-salah malah tertipu dan terpaksa gulung tikar. Akhirnya, banyak pengusaha dengan bisnis maju lebih memilih untuk membuka cabang demi mengembangkan usaha.

Tapi membuka cabang baru bukan perkara gampang. Demi membuka cabang, pengusaha perlu sokongan modal besar untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM), mencari lokasi dan mempersiapkan manajemen cabang baru. Lalu bagaimana jika modal yang dimiliki tidak cukup besar? Waralabalah jawabannya.

Alih-alih mengeluarkan biaya banyak untuk membangun outlet dan merekrut SDM, pengusaha yang mewaralabakan usaha justru memperoleh sumber pendapatan baru dari franchise fee dan royalty fee dari penerima waralaba (franchisee). Konsekuensinya, franchisor harus berbagi profit dengan franchisee.

Konsep variatif
Konsep waralaba sesungguhnya cukup variatif, bergantung kesepakatan dan keputusan kedua belah pihak. Umumnya, kesepakatan mencakup tentang bentuk outlet, interior outlet, rincian kebutuhan untuk memulai bisnis mulai dari perlengkapan, sistem manajemen, administrasi, tenaga kerja hingga rincian dana yang harus disiapkan plus hitungan perkiraan balik modal atau break even point (BEP).
Pada waralaba produk makanan, sejumlah franchisor menyiapkan beberapa pilihan outlet bagi franchisee. Seperti yang ditawarkan Donutboyz misalnya, waralaba donut kentang asli Solo ini menyiapkan tiga bentuk outlet, yaitu konsep booth sederhana, konsep bakery shop dan konsep kafe.

Setiap konsep outlet dipatok biaya investasi yang berbeda. Untuk konsep bakeri contohnya, calon franchise perlu menyiapkan dana investasi sebesar Rp 160,5 juta. Sementara konsep kafe Rp 250 juta. “Biaya investasi tersebut sudah termasuk perlengkapan dan peralatan produksi lengkap, training karyawan hingga promosi nasional,” kata Anita Sari SH, pemilik Donutboyz.
Beda lagi dengan konsep waralaba yang diterapkan Quantum dan Movie Time di bawah bendera CV Indomedia Edutainment. Tak ada konsep booth dalam waralaba persewaan komik dan DVD orisinal ini. Outlet terbagi berdasarkan luas bangunan, yaitu 60 meter persegi, 100 meter persegi dan 200 meter persegi.

Biaya investasi untuk luas bangunan 60 meter persegi Rp 150 juta, 100 m2 mencapai Rp 200 juta dan untuk outlet dengan luas 200 m2 adalah Rp 360 juta. Nilai investasi itu sudah mencakup harga waralaba, perlengkapan elektronik penunjang, koleksi buku dan DVD orisinal, kebutuhan promosi serta renovasi toko seperti rak, kaca dan pintu, pengecatan hingga pemasangan pendingin udara.
“Untuk awal pendirian, franchisee bisa dibilang tahu beres, karena semua kami tangani langsung,” jelas Yacobus AJ Sulistio, business development manager CV Indomedia Edutainment.
Selain variasi konsep outlet, waralaba juga mengenal pembagian berdasar wilayah kekuasaan franchisee. “Kami menerapkan dua konsep franchisee, yaitu city licence untuk outlet yang berlokasi di kabupaten atau kota dan zona licence untuk outlet di ibukota provinsi,” ungkap Own Principle Matematika Dahsyat Solo, Yustinus Dwi Atmojo.

Franchisee pemegang zona lisensi berhak membuka lebih dari satu outlet, konsep ini serupa dengan master franchise yang ditetapkan oleh sejumlah pengusaha lain.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas

lowongan peekrjaan
PT. Integra Karya Sentosa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…