Minggu, 28 Maret 2010 14:48 WIB Kuliner Share :

Berbeda-beda bercampur jadi satu

Bicara mengenai keunikan dalam tradisi makanan dan penyajian masakan khas Padang memang tak ada habisnya. Kita mulai saja dengan teknik memasak dan pilihan bumbu yang digunakan di tiap masakan. Tak ada istilah minimalis dalam pilihan bumbu.

Masriyanto, karyawan rumah makan padang Restu Bundo menuturkan masakan padang memang selalu kaya rempah. Rendang asli Padang malah konon mengandung 27 bumbu rempah. Proses memasaknya pun memakan waktu hingga lima jam, tak heran cita rasa yang sampai di lidah menjadi begitu rumit.

Rasa rendang terlalu kaya sehingga sulit ditafsirkan dengan kata-kata. Ibarat negara, masakan padang mirip seperti Indonesia. Beragam bumbu dengan rasa asli yang berbeda-beda bercampur dalam satu masakan dan menghasilkan cita rasa baru yang luar biasa kaya. Bhinneka Tunggal Ika.

Saking njlimet-nya pemakaian bumbu dalam masakan Padang, tak sedikit rumah makan Padang yang berburu bumbu langsung dari daerah asal. “Tidak semua bumbu bisa didapat di Solo. Saya sendiri lebih sering belanja bumbu di toko penyedia bahan jamu ketimbang di pedagang sayur,” kata Ny Idrawati Nasrul, pemilik Rumah Makan Denai. Wanita asal Sumatra Barat ini sudah 22 tahun bergelut di bisnis rumah makan padang.

Masakan padang sering kali juga menggunakan bumbu yang tak lazim dipakai di masakan lain seperti makanan di Jawa. Salah satunya adalah penggunaan daun kunyit. “Di Jawa, daun kunyit dibuang, tak dipakai untuk bumbu masak. Sebaliknya, untuk masakan padang, daun kunyit jadi salah satu bumbu wajib. Karena itu, jangan tanya bagaimana sulitnya mencari daun kunyit di Solo,” timpal Idrawati lagi. Alhasil untuk mendapatkan daun kunyit, Idrawati harus memesan terlebih dahulu. Itu pun belum tentu dapat.

Matrilineal
Satu lagi yang unik di restoran padang. Pernahkah Anda perhatikan? Pelayan di restoran padang selalu pria. Jarang sekali ditemui, pelayan wanita di restoran padang. Konon, hal ini tak lepas dari tradisi Sumatra Barat yang menganut sistem matrilineal.

Tradisi ini menempatkan kedudukan yang tinggi bagi wanita, sehingga pekerjaan seperti pelayan lebih sering dipasrahkan kepada laki-laki. Wanita padang yang terlibat di restoran padang biasanya hanya dipasrahi bidang administrasi seperti kasir.

Hal lain yang juga tak banyak diketahui orang soal pengelolaan restoran padang adalah sistem kekeluargaan yang kental . Di beberapa tempat, sebuah restoran padang biasanya melibatkan kerabat keluarga atau rekan sekampung.

Itu pula alasannya, sistem keuangan yang diterapkan didasarkan pada pembagian keuntungan. Pendapatan yang diperoleh karyawan disesuaikan jumlah keuntungan. Sistem asli ini masih terus dipertahankan di beberapa restoran padang modern seperti Restoran Sederhana.

Keuntungan yang didapat dibagi sesuai porsi dan peranan antara pemilik restoran dengan karyawan. “Jadi kalau pengunjung sedang sepi, pendapatan kami juga berkurang. Hal ini memacu kami untuk bekerja lebih giat agar restoran selalu ramai,” kata Warsito, supervisor waiter di Restoran Sederhana.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas, Fetty Permatasari

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…