Minggu, 28 Maret 2010 15:14 WIB Kesehatan Share :

Bedah plastik
Dipuja atau dicela?

Wanita mana yang tak suka tampil cantik dan menarik? Maklum, perasaan cantik itu memberi efek percaya diri besar yang berujung pada keberhasilan dan kebahagiaan seseorang. Sebaliknya, wanita yang merasa tak cantik, identik dengan rasa percaya diri yang rendah. Ujung-ujungnya, ia pun merasa tidak nyaman menjalankan aktivitas.
Masalahnya, tak semua orang puas dengan bentuk tubuh dan wajah mereka. Ada yang merasa hidungnya terlalu besar, pipi terlalu tembam, telinga kurang lebar atau payudara terlalu kecil. Berbagai cara dan upaya pun kerap dijajal demi mendapatkan bentuk tubuh dan wajah sesuai keinginan. Operasi plastik, suntik silikon, suntik botox hingga minum aneka jamu pelangsing pun dilakoni dengan mendapat tubuh dan wajah ideal.

Coba dengar keluhan seorang rekan, yang enggan namanya disebut ini. Wajah wanita berusia 28 tahun ini sebenarnya cukup proporsional, namun ia mengaku kurang puas dengan bentuk hidung yang dirasa terlalu pesek. “Tahu tempat memancungkan hidung yang murah tapi aman tidak?” katanya suatu ketika.
Ia mengaku sudah sempat berburu klinik kecantikan yang menawarkan jasa memperbaiki bentuk hidung, mulai dari Jakarta hingga Surabaya. Namun harga jasa pelayanan yang terlalu mahal membuatnya urung memermak hidung. “Hidungku terlalu pesek kurang sesuai dengan pipi dan mata. Belum lagi kalau pakai kacamata selalu melorot karena tak punya batang hidung,” lanjut dia setengah bergurau.

Hingga kini, operasi plastik sebagai metode memperbaiki bentuk wajah dan tubuh dinilai sebagai cara teraman dengan hasil yang cukup memuaskan. Namun, yang jadi persoalan adalah tak semua dokter memiliki lisensi dan kompetensi untuk melakukan bedah plastik. Tak heran harga yang dipatok untuk sebuah bedah plastik estetika pun cukup mahal, selalu bertengger pada kisaran jutaan rupiah. Alhasil, bedah plastik pun hanya bisa dijalani oleh orang-orang berkantung tebal.
Saat sebagian orang memuja bedah plastik sebagai penyelamat kecantikan, sebagian kalangan lain malah menghujat praktik bedah plastik lantaran dinilai menyalahi takdir Tuhan. Bedah plastik pun seperti terombang-ambing, antara dipuja dan dicela.

“Tak banyak orang yang tahu bahwa bedah plastik lebih banyak dilakukan untuk merekonstruksi bagian tubuh yang memiliki bentuk dan fungsi tidak normal. Jadi bedah plastik bukan semata-mata mengubah bentuk bagian tubuh, tapi juga memperbaiki agar bisa berfungsi sempurna,” kata Ketua Perhimpunan Ahli Bedah Plastik (PERAPI) Jawa Tengah, dr Amru Sungkar SpBP.
Secara umum bedah plastik terbagi dua yaitu bedah plastik rekonstruksi dan bedah plastik estetika. Bedah rekonstruksi, merupakan bedah plastik yang ditujukan untuk memperbaiki pasien yang mengalami bentuk dan fungsi bagian tubuh yang tidak normal, seperti kerusakan akibat luka bakar, atau bibir sumbing.
“Luka bakar biasanya membuat pasien tak leluasa bergerak, ada pula yang sulit bernapas karena lubang hidungnya terhalang kulit yang meleleh akibat luka bakar,” lanjut ahli bedah plastik yang berpraktik di RS Kasih Ibu dan RS Moewardi ini.

Bedah estetik
Sementara itu, praktik bedah plastik estetika ditujukan untuk mengubah bentuk bagian tubuh yang sebetulnya normal ditilik dari sisi fungsi dan antropologi. Misalnya saja, kata Amru, di Indonesia, seseorang berhidung pesek adalah hal yang lumrah karena sebagian orang Indonesia juga berhidung pesek. Hidung pesek jadi dirasa kurang normal bila yang bersangkutan berada di lingkungan orang kulit putih yang rata-rata berhidung mancung.

Sebenarnya, dari total kasus bedah plastik di Indonesia, sekitar 85 % merupakan bedah rekonstruksi. Hanya 15 % di antaranya yang masuk kategori praktik bedah estetika. Sayangnya, 15 % kasus ini justru lebih banyak terekspose sehingga banyak orang mengasosiasikan bedah plastik sebagai bedah estetika.
Bedah plastik mungkin pantas disebut sebagai ilmu yang revolusioner. Pasalnya, hampir seluruh bagian tubuh bisa dipermak dengan teknik ini, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kebotakan, perbaikan wajah, payudara, sedot lemak, mempersempit vagina hingga perbaikan kuku jempol kaki pun bisa diselesaikan dengan bedah plastik. Di Indonesia, sedot lemak dan face lift untuk menghilangkan kerutan merupakan jenis bedah yang paling diminati. Mekanismenya pun tak terlalu rumit, tak jauh beda dengan prosedur kebanyakan operasi lain.

Mula-mula, dokter menentukan derajat kelebihan lemak pasien sebelum memutuskan tindakan operasi. Derajat kelebihan lemak dibagi menjadi empat. Derajat pertama, kelebihan lemak di area dibagian bawah pusar. Derajat kedua meliputi kelebihan lemak dan kulit di area yang sama. Derajat ketiga, kelebihan lemak dan kulit ditambah otot dinding perut yang kendur. Sedangkan derajat keempat adalah seluruh permasalahan pada derajat ketiga ditambah payudara yang mengendur. “Hal ini umumnya terjadi pada wanita yang telah melahirkan dan berusia di atas 40 tahun,” kata Amru.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas

lowongan pekerjaan
Marketing dan Surveyor, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…