Jumat, 26 Maret 2010 21:15 WIB News Share :

13 Kiai gagal sepakati pemilihan rais Aam NU

Makassar–Menjelang pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU Jumat (26/3) malam, sejumlah kiai melakukan pertemuan tertutup membahas kondisi mutakhir terutama dalam pemilihan Rais Aam NU.

Ke-13 kiai yang hadir dalam pertemuan di kediaman KH Sanusi Baco (tokoh NU Sulsel), KH Sahal Mahfud, KH Musthofa Bisri, Habib Lutfi, Maemun Zubair, KH Ma’ruf Amien,KH Maghfur Usman, KH Tholchah Hasan, Prof Khotibul Umam, Prof Nazarudin Umar, KH Asnawi Latif dan lain-lain. KH Hasyim Muzadi yang juga turut diundang, absen dalam pertemuan tersebut.

Agenda pertemuan yang sedianya untuk mengambil kata sepakat dalam format pemilihan Rais Aam Syuriyah NU dengan metode ahlul halli wal aqdi (penunjukan langsung oleh beberapa kyai), ternyata tidak satupun persoalan tersebut dibicarakan.

Menurut sumber yang turut serta dalam pertemuan tersebut menyebutkan para kyai justru ewuh pakewuh untuk membicarakan pemilihan Rais Aam.

“Padahal pertemuan di-setting untuk membicarakan soal Rais Aam. Ternyata hanya diisi pembicaraan basa-basi dan doa bersama saja,” ujarnya di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Jumat (26/3).

Terkait ketidakhadiran KH Hasyim Muzadi dalam pertemuan tersebut belum ada informasi perihal absennya Ketua PBNU demisioner tersebut.

Pertemuan para kyai sepuh bukan kali ini saja. Karena pertemuan serupa juga pernah terlaksana meski tidak sebanyak peserta pertemuan jelang pemilihan. Pertemuan tersebut digelar untuk melihat kondisi mutakhir tentang menguatnya nama KH Hasyim Muzadi sebagai calon Rais Aam PBNU.

Bukan tanpa soal jika KH Hasyim Muzadi terpilih, karena beberapa kyai sepuh mengancam akan pisah dari NU (mufaraqah). Karena para kyai menilai, KH Hasyim Muzadi belum pas untuk menjadi Rais Aam. Sebagaimana tradisi selama ini, Rais Aam diisi oleh kyai sepuh dan senior baik segi usia dan kapasitas keilmuwannya.

inilah/fid

lowongan pekerjaan
BPR BINSANI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mencari Alamat Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (06/01/2018). Esai ini karya Na’imatur Rofiqoh, ”pemukul” huruf dan juru gambar yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah naimaturr@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Bahasa Indonesia tidak lagi beralamat di Indonesia. Indonesia malah jadi tempat…