Kamis, 25 Maret 2010 17:17 WIB Ekonomi Share :

Soal krisis gas, BP Migas angkat tangan

Jakarta–Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi menyerah untuk memenuhi pasokan gas sebesar 100 juta kaki kubik per hari (mmscfd) untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Muara Tawar pada tahun ini.

“Kekurangan gas itu baru bisa dipenuhi dari LNG Receiving Terminal pada September 2011, satu-satunya jalan yah itu tidak ada lagi,” kata Kepala Bina Humas dan Hubungan Kelembagaan BP Migas Sulistia Hastuti Wahyu di Jakarta, Kamis (25/3).

Alasannya, Sulistia menjelaskan, produksi gas dari lapangan Grissik di Sumatera Selatan milik ConocoPhilips lebih diprioritaskan untuk meningkatkan produksi minyak lapangan Duri, di Riau milik PT Chevron Pacific Indonesia (CPI). Sebab, jika tidak dilakukan cara ini, target lifting dan produksi minyak nasional tidak tercapai. Akibatnya, penerimaan negara yang terancam turun. ”Potensi ruginya lebih besar,”kata dia

Selain itu, prioritas gas sudah sesuai dengan peraturan menteri soal pemanfaatan gas untuk kebutuhan domestik. “Jadi gas dari lapangan ConocoPhilips tidak bisa dialihkan untuk mengatasi kekurangan pasokan gas ke PLTGU Muara Tawar,”tuturnya.

ConocoPhillips seharusnya memasok 396 juta standar kaki kubik per hari dari lapangan Grissik ke jaringan pipa PT Perusahaan Gas Negara Sumatera Selatan-Jawa Barat. Namun, sejak Februari pasokan hanya 250-260 juta standar kaki kubik per hari, bahkan turun drastis menjadi 150 juta standar kaki kubik per hari.

vivanews/rif

lowongan pekrajaan
Yayasan Internusa Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Jokowi Raja Batak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (13/01/2018). Esai ini karya Advent Tarigan Tambun, inisiator Sinabung Karo Jazz 2017. Alamat e-mail penulis adalah atambun@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Saya bukan ahli budaya Batak. Dengan jujur saya harus mengatakan bahwa pengetahuan saya tentang budaya…