Rabu, 24 Maret 2010 20:04 WIB Kolom Share :

Mati ketawa jadi calon walikota…

Mulyanto Utomo – Wartawan SOLOPOS

Denmas Sulaya tergopoh-gopoh mendatangi Kangmas Wartonegoro berkait dengan isu pemilihan walikota yang kini sedang gayeng-gayeng-nya diberitakan di berbagai media. Di lubuk hatinya yang paling dalam, dia sebenarnya berminat juga untuk bisa menjadi “orang nomor satu” di wilayhnya.

“Pasti enak ya Mas jadi walikota itu. Mobilnya sedan mulus, ke mana-mana disubya-subya, butuh apa-apa tinggal perintah, tinggalnya di Loji Gandrung yang megah lagi. Wah… wis pokokmen pasti nyenengkeh ya Mas,” kata Denmas Sulaya yang memang kesehariannya rada sulaya kae.

Kangmas Wartonegoro yang mendadak mendapat tamu tak diundang itu hanya tersenyum simpul. “Yang dibayangkan jangan hanya yang enak-enaknya Mas. Jadi walikota itu mestinya rekasa. Karena dia mampunyai tanggung jawab yang sangat besar. Selain tangung jawab kepada Yang di Atas, dia juga berkewajiban mensejahterakan rakyatnya,” kata Kangmas Wartonegara.

Ayak… apa harus begitu? Nyatanya saya ini sudah berapa kali mempunyai walikota. Lha kok ya ora sejahtera-sejahtera. Nah mumpung sekarang ini eranya kan demokrasi yang sesungguhnya, saya mau benar-benar memperjuangkan nasib rakyat ke arah yang lebih baik. Saya ke sini ini sebenarnya untuk konsultasi mau mencalonkan diri jadi walikota,” kata Denmas Sulaya serius.

Kangmas Wartonegoro yang mendengar pernyataan Denmas Sulaya itu langsung tertawa terbahak-bahak. “Ha… ha… ha…. Sampeyan punya duit berapa kok mau nyalon jadi walikota?” tanya Wartonegoro sambil badannya masih terguncang-guncang menahan tawa.

“Lho panjenengan kok malah tertawa ta Mas. Kalau soal duit, ya ada lah kalau Rp 50 juta. Kan itu masih sisa ta untuk mendaftar ke partai,” kata Denmas Sulaya.

Mendapat jawaban seperti itu, sekali lagi Kangmas Wartonegoro kembali tertawa. Kali ini lebih kenceng dan lama, bahkan perutnya sampai kaku-kaku. “Sik ta Mas Sulaya. Sampeyan ini mau nyalon jadi walikota atau hanya mendaftarkan diri jadi walikota. Kalau hanya mendaftar thok, ya cukup. Tapi kalau sampeyan pengen tidur selama lima tahun di Loji Gandrung sana, dananya bukan cuma puluhan juta, bahkan ratusan juta. Itungannya ‘M’ Mas, miliar… miliar rupiah,” kata Wartonegro.

“Hue!!!… itu ya duit semua. Lha untuk apa?” giliran Denmas Sulaya bertanya.

“Lha iya… apa ya duit gambar bagong. Duit itu sekarang lagi berkuasa Mas. Itu nanti untuk ‘menambah gizi’ para pendukung Anda,” kata Kangmas Wartonegoro.

“We lha, apa pendukung saya orang-orang sakit, kok ndadak ditambahi gizinya,” kata Denmas Wartonegoro yang kemudian pulang dengan semangat yang sudah sangat berbeda dibanding ketika dia mendatangi Kangmas Wartonegoro tadi. Dia mahfum, setelah mendapat penjelasan bahwa masyarakat kita memang masih sakit…

***

Membicarakan pencalonan walikota atau pemilihan kepala daerah-kepala daerah lainnya, memang tak bisa terlepas dari masalah ironi. Ketika kran demokrasi dibuka lebar di negeri ini, ternyata uang masih saja mempunyai peran yang luar biasa penting. Bermodal nekat tanpa dokat alias uang, percuma. Persoalan politik uang (money politics) di negeri ini memang telah telanjur parah.

Tradisi bagi-bagi uang, masih saja berlangsung. Bedanya, jika masa lalu sering kali “hujan tidak merata” hanya jatuh di wilayah hulu, kali hujan uang yang dijatuhkan harus “lebih merata”. Yang sengsara ya para calon kepala daerah yang hendak merebut tahta, karena mereka harus menebar biaya yang jauh lebih besar dibanding jika hanya membayar kepada 45 orang anggota di dewan, misalnya.

Dengan kenyataan seperti itu, membayangkan bisa memilih pemimpin daerah ideal, yaitu seorang walikota atau bupati yang kapabel, berkualitas, memiliki keluasan pengetahuan dan wawasan luas, berakhlakul karimah, serta prasyarat lain yang sesuai standar moral sekarang ini bukanlah pekerjaan mudah. Begitu banyak hal-hal yang menggelikan sekaligus layak ditertawakan, ketika kita menyimak proses pemilihan walikota atau bupati yang kini sedang berlangsung.

Denmas Sulaya jadi teringat ketika tahun 1986 silam membaca buku berjudul Mati Ketawa Cara Rusia. Buku yang meledak dan sangat laris berisi tentang sindiran sangat tajam sekaligus amat kocak tentang anekdot politik di negeri Soviet itu begitu sejalan dengan beragam kisah di balik proses Pilkada.

Kelucuan, kekocakan, ironi dan juga kisah-kisah tragis begitu banyak terjadi sepanjang proses penjaringan walikota. Banyak orang yang kepingin jadi walikota tapi tak punya cukup uang untuk “menambah gizi” calon pedukungnya terpaksa ngaplo, gigit jari. Atau seorang yang turah duit tapi ternyata “dikadali” pendukungnya saat mencalonkan diri jadi walikota, juga tak kalah membuat syaraf tawa berkerut getir.

Karenanya, tak berlebihan jika kemudian Kangmas Wartonegoro mengusulkan kepada Denmas Sulaya untuk menulis buku Mati Ketawa Jadi Calon Walikota. Karena menurut dia, banyak parodi dan kekeliruan dalam prose penjaringan walikota ini yang laik dihumorkan. Setidaknya seperti ditulis Yulian Firdaus di situsnya yulian.firdaus.or.id, terlepas apakah sebuah humor itu getir atau manis, suatu tawa ternyata mampu meningkatkan kekebalan tubuh manusia. Satu penelitian menyebutkan suara tawa dapat meningkatkan sistem kekebalan hingga 40 persen.

Karenanya, para ahli yang terlibat dalam penelitian itu berkeyakinan, saat ini para profesional kesehatan sebaiknya memandang serius humor sebagai sebuah terapi. Artinya, untuk para kandidat yang telanjur sudah mengeluarkan ber-M-M rupiah untuk hajatan bernama Pilkadal ini, jangan mati ketawa gara-gara Pilkadal akibat stres memikirkan kegagalannya. Anggap saja Pilkadal sebagai hiburan politik yang layak ditertawakan…

Mulyanto Utomo

Wartawan SOLOPOS

(tulisan ini pernah dimuat di Harian SOLOPOS)

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…