Selasa, 23 Maret 2010 19:10 WIB Kuliner Share :

Sosis bedug, kuliner Pengging yang masih diburu

Mendengar nama bedug di belakang kata sosis, barangkali bayangan orang akan segera tertuju pada makanan sosis yang ukurannya super besar.

Ternyata, sosis bedug tidaklah terlalu besar karena masih dalam ukuran sedang-sedang saja layaknya sebuah makanan sosis yang di dalamnya berisi daging.

Bagi sebagian masyarakat di Kawasan Wisata Pengging Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali, sosis bedug barangkali sudah tak asing lagi. Penganan itu dipasarkan di sekitar Tempat Wisata Pengging sejak kurang lebih tahun 1950an di depan Pasar Pengging.

Banyak orang yang mampir ke warung tempat penjualan sosis bedug baik di santap di tempat maupun dibawa untuk oleh-oleh.

Embel-embel kata bedug sendiri diambil dari nama pedagangnya yaitu almarhum Sukinem  Karyo atau yang dikenal dengan panggilan Mbah Bedug.

Sosis bedug kerap dibawa sebagai oleh-oleh bagi masyarakat yang sudah tahu dan mengenal keberadaan makanan itu. Tak hanya itu, pesanan demi pesanan juga terus mengalir baik untuk acara hajatan, rapat atau arisan maupun pertemuan lainnya.

Salah satu anak Mbah Bedug, Tatik Haryati, 60 mengemukakan sosis bedug dijual dengan harga Rp 2.000/biji. Rata-rata, kata Tatik, setiap hari kurang lebih 400 biji sosis bedug bisa terjual. Dia menambahkan, tepung terigu yang dibutuhkan untuk membuat sosis setiap harinya sekitar 5 kilogram.

“Saya melanjutkan jualan sosis bedug atas izin dari Mbah Bedug. Sebab, kalau tidak dilanjutkan sayang dan kasihan jika ada pembeli yang kecele. Dulu, banyak orang yang kecele karena beberapa kali sempat tidak berjualan,” ucap Tatik yang merupakan pensiunan guru SMP 1 Kartasura Sukoharjo.

Hingga kini, ujar Tatik, sosis bedug sering dibawa sebagai oleh-oleh ke berbagai tempat di antaranya Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Solo dan Makasar.

Tatik mengemukakan sebenarnya bahan pembuatan sosis sama dengan sosis-sosis yang dipasarkan di tempat lain. Namun, dia memperkirakan kemungkinan teknik pembuatan maupun rasa sosis bedug yang berbeda dengan sosis lainnya.  Ditegaskannya, isi sosis bedug benar-benar daging sapi asli.

Diakuinya, banyak pembeli yang lebih senang menikmati sosis bedug dalam kondisi masih hangat. Untuk itulah, Tatik mengaku lebih memilih menggoreng sosis bedug sedikit demi sedikit. Dia menuturkan, ada pelanggannya yang setiap datang berdua bersama anaknya bisa menghabiskan 12 sosis bedug.

nad

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…