Minggu, 21 Maret 2010 21:39 WIB Kuliner Share :

Olahan tepung beras, minimalis namun kaya variasi

Orang Indonesia mana yang tak kenal beras? Saking terbiasa dengan bahan makanan pokok yang satu ini, legenda mengenai Dewi Sri sang dewi padi —tanaman penghasil beras— pun dihadirkan sebagai bentuk penghormatan yang maha tinggi.

Beberapa dari Anda mungkin tak sadar betapa tergantungnya orang Indonesia terhadap beras dan berbagai produk olahannya. Seakan tak cukup hanya mengonsumsi beras yang telah diolah menjadi nasi, beras pun disajikan dalam bentuk penganan ringan yang menggugah selera.

Bentuk olahannya beraneka ragam, ada yang disajikan bersama pisang, taburan kelapa parut, gula merah, tambahan santan dan masih banyak lagi variasi lainnya. Kalau semua variasi olahan itu didaftar, mungkin hanya bisa termuat dalam satu buku tebal dengan ratusan halaman, sebagian besar tergolong penganan tradisional khas Indonesia.

Nah, Anda tentu sangat mengenal nagasari, putu, kue mangkuk, talam ebi, kue lapis atau serabi. Meski terbuat dari bahan yang sama, dengan bentuk yang rata-rata minimalis, namun masing-masing penganan itu hadir dengan cita rasa berbeda. Ini cukup jadi bukti, betapa kayanya variasi si tepung beras.

Tampil variatif bukan berarti penganan tepung beras hadir dengan tekstur, rasa dan bentuk yang njlimet. Umumnya, tekstur kue dari tepung beras cukup sederhana, mulus dan mudah dicerna. Rasanya pun tidak terlalu ramai, hanya ada rasa manis dari tambahan bahan seperti gula atau buah, lalu rasa guríh dari santan.

Rasa asli tepung beras yang sedikit sepet sendiri nyaris tak pernah dominan meski sesekali muncul. Hanya teksturnya yang mulus yang terasa mendominasi. Tengok saja bagaimana tampilan dan tekstur kue lapis tradisional. Penganan khas berbahan baku tepung beras yang dibuat berlapis dengan dua atau tiga warna berbeda ini memiliki rasa yang sederhana. Legit.
Satu kata itu rasanya memang sudah cukup untuk merepresentasi keistimewaan rasa kue lapis yang diolah dari campuran tepung beras, tepung kanji, santan, daun pandan dan vanili itu. Penyajiannya pun tak pernah neko-neko, dihidangkan begitu saja tanpa tambahan garnis untuk pemanis. Keunikan tampilan kue lapis justru terletak pada variasi warna yang tersusun rapi dalam tiap potongan.

Namun, olahan kue dari tepung beras tak selalu terasa legit, ada pula olahan yang justru kental dengan rasa gurih yang menyeruak di setiap gigitan. Misalnya saja kue talam ebi. Alih-alih memuaskan indera pemanis di lidah seperti kebanyakan kue berbahan tepung beras lainnya, kue kukus berbentuk mangkuk yang disajikan dengan tambahan bawang goreng dan ebi ini malah eksis dengan dominasi rasa asin dan gurih. Kontras dengan tekstur khas penganan berbahan tepung beras yang lembut dan terasa mulus di mulut.

Namun, ada pula kue talam berbentuk serupa lapis yang tetap kental bernuansa manis. Meskipun, juga tetap dipadukan dengan rasa gurih. ”Kalau yang berbentuk seperti kue lapis ini memang ada dua rasa dalam satu sajian. Lapisan yang berwarna coklat dari gula jawa berasa manis sedangkan lapisan yang berwarna putih berasa gurih,” tutur salah seorang pedagang jajan pasar di Pasar Gede, Mari.

Satu hal yang menarik dari sajian berbahan tepung beras adalah pengolahannya yang lebih banyak dengan cara dikukus. Bukan tanpa alasan memang, karakter tepung beras yang sensitif terhadap air disinyalir jadi alasan nenek moyang kita memilih cara kukus untuk mengolahnya. ”Mengolah tepung beras itu susah susah gampang. Kalau terlalu banyak air jadi jemek, tapi kalau kurang air malah kaku. Itu sebabnya olahan dari tepung beras jarang dibuat dengan cara selain kukus,” kata salah seorang pedagang jajanan pasar di Pasar Ledoksari, Poniyem.

Makna mendalam
Meskipun demikian, kata Poniyem, beberapa jenis penganan berbahan dasar tepung beras memiliki filosofi yang dalam. Salah satunya kue mangkuk, yakni kue berbentuk serupa mangkuk yang mekar pada bagian atasnya. Biasanya melengkapi kue keranjang yang disusun meninggi pada perayaan sincia atau perayaan tahun baru pada tarikh Imlek.

Kalau filosofinya sendiri adalah sebagai simbol pengharapan agar kehidupan selalu manis dan mekar. Seperti bentuk bagian atas kue mangkuk.

Selain kue mangkuk, lanjut Poniyem kudapan berbahan tepung beras yang mempunyai makna dalam yakni apem. Kudapan yang umumnya terbuat dari tepung beras, santan dan tape singkong. Syahdan, nama apem diambil dari kata afwan yang berarti maaf. ” Sehingga apem yang disebar pada Sekaten maupun acara nyebar apem lainnya sebenarnya juga punya makna agar manusia saling memaafkan,” paparnya.

Namun, menurut Poniyem, di antara satu daerah dengan daerah lainnya punya ciri apem yang berbeda-beda. ”Kalau di Kota Solo sendiri selain apem biasa juga ada apem pinang dan apem Yogyakarta yang notabene juga sama saja,” tandasnya.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas, Fetty Permatasari

lowongan pekerjaan
CV.Indra Daya Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…