Selasa, 16 Maret 2010 14:06 WIB Travel Share :

Yang tersisa dari Benteng Vastenburg

Sebuah bangunan cagar budaya yang terletak di jantung Kota Solo itu kini kondisinya sungguh memprihatinkan. Letak yang sangat strategis ternyata tak diimbangi dengan perawatan dan pelestarian bangunan bersejarah itu.

Adalah Benteng Vastenburg, yang dibangun penjajah Belanda pada 1745, akhir-akhir telah ini menyita perhatian masyarakat. Pasalnya, di tengah kompleks bangunan cagar budaya itu akan dibangun hotel modern, sehingga dikhawatirkan akan merusak cagar budaya.

Permasalahan menjadi kian rumit lantaran bangunan yang dirancang oleh Baron van Imhoff ini sudah menjadi milik perseorangan, padahal bangunan ini saksi sejarah perkembangan Kota Solo. Dibangun bersamaan saat pindahnya Keraton Mataram dari Kartasura ke Desa Sala yang kemudian menjadi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Apabila kita mengelilingi kompleks ini, tampak ilalang dan rerumputan yang tak terawat. Pada saat digelar event Solo International Ethnic Music (SIEM) 2008 silam, kompleks ini tampak rapi, tapi itu hanya sesaat. Padahal, bangunan ini sungguh menakjubkan. Pada sekeliling bangunan selain berupa tembok kokoh berdinding tebal, juga masih dikelilingi parit.

Kondisi dinding temboknya pun sekarang telah banyak yang berlumut, mengelupas dan pecah-pecah. Paritnya ditumbuhi rumput liar. Sementara, Vastenburg masih menjadi polemik dan rebutan antara budayawan dan investor. Benteng yang menempati luas 31.533 m2 itu menjadi bahan pergunjingan karena statusnya sebagai cagar budaya yang seharusnya dilindungi UU No 5/1992 tentang Perlindungan Benda Cagar Budaya, tapi dikuasai investor.

Sejak 2008, budayawan Solo telah berkali-kali menggelar aksi keperdulian mengenai hal itu. Pihak investor mempersilakan kompleks itu dibeli Rp 600 miliar atau sekitar satu tahun APBD Kota Solo pada saat itu. Sampai saat ini pun masih terjadi tarik-ulur menyikapi rencana pembangunan hotel di tengah benteng itu. Pemerintah belum berani mengeluarkan IMB karena tekanan masyarakat.

Pengamat budaya Mufti Rahardjo menyayangkan rencana pembangunan hotel itu. Menurut dia, bangunan cagar budaya seharusnya dikonservasi, dipreservasi dan direvitalisasi, sehingga tidak kehilangan nilai historisnya. Benteng ini awalnya bernama Grootmoedigheid. Dulunya menjadi pertahanan yang terkait dengan rumah Gubernur Belanda. Benteng ini digunakan sebagai pusat pengawasan Pemerintah Belanda terhadap gerak-gerik Keraton Kasunanan. Setelah Indonesia merdeka, kompleks ini dijadikan asrama militer, asrama untuk Brigade Infantri 6, Trisakti Baladaya dan Kostrad.

Pardoyo, Litbang SOLOPOS

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…