Selasa, 16 Maret 2010 16:42 WIB Klaten Share :

Tawur Agung Sasih Kesanga upaya menyucikan diri umat Hindu

Klaten (Espos)–Suara lonceng menggema di Area Wisnu,komplek Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan pagi itu. Lonceng itu dibunyikan oleh tiga orang pandita yakni Kanjeng Sri Bhagawan Istri Agung Ratu Gayatri, Ida Sri Bhagawan Putra Manuaba, Pedande Sbali Tianyar Arimbawa yang memimpin jalannya pelaksanaan Upacara Tawur Agung Sasih Kesanga.
Sambil membunyikan lonceng, mulut mereka bertiga komat-kamit memanjatkan doa-doa kepada Ida Hyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa.

Di depan mereka bertiga, terdapat aneka buah-buahan serta air yang berasal dari tujuh sumber dari Klaten dan Boyolali.

Puluhan orang dengan mengenakan pakaian serba putih berada di belakang mereka bertiga. Ikat kepala dan jarik yang dikenakan menjadi ciri khas mereka. Di tengah bau khas dupa yang dibakar, kedua telapak tangan mereka bertemu tepat di atas ubun-ubun seraya berdoa.

Tak jauh dari belakang puluhan orang itu, ribuan umat Hindu di Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, Jakarta, dan lain-lain mengikuti gerakan yang sama.

Setelah pembacaan doa selesai, ketiga pandita itu membagikan air suci kepada ribuan umat Hindu yang hadir. Oleh sebagian umat hindu, air itu diminum sebagian lagi dipercikkan ke tubuh mereka. Umat Hindu percaya air yang berasal dari tujuh sumber yang telah didoakan itu mampu menyucikan hati dan pikiran mereka.

Demikian sedikit gambaran dalam Upacara Tawur Agung Sasih Kesanga dalam rangka peringatan Hari Raya Nyepi 1932 Saka yang dihelat di Area Wisnu, komplek TWC Prambanan, Senin (15/3). Upacara Tawur Agung Sasih Kesanga adalah puncak acara dari perayaan Nyepi tersebut.
Sebelumnya, digelar ritual pengusungan dua buah ogoh-ogoh mengelilingi Area Wisnu. Oleh umat Hindu, ogoh-ogoh itu merupakan simbol keburukan yang harus dihancurkan. Perayaan ini dimulai dari Upacara Perjalanan Tirta dari Candi Ratu Boko ke komplek TWC Candi Prambanan. Selain itu, dihelat juga Upacara Pradaksina di Candi Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Upacara Tawur Agung itu sendiri dihadiri oleh Menteri Agama, Suryadharma Ali, Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, serta sejumlah pejabat provinsi DIY dan Kabupaten Klaten. Dalam kesempatan itu, Suryadharma Ali  mengajak umat Hindu untuk memaknai Tawur Agung sebagai ajang untuk melakukan kontemplasi atau perenungan.

“Upacara Tawur Agung ini akan lebih bermakna jika upacara ini tidak sekadar ritual. Alangkah baiknya jika nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ritual diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Selanjutnya, umat Hindu akan melaksanakan ritual Catur Brata selama 24 jam pada Selasa (16/3). Catur Brata itu meliputi Mati Karya atau tidak bekerja, Mati Lelungan atau tidak bepergian, Mati Geni atau tidak menyalakan lampu, dan Mati Lelanguan atau tidak mencari hiburan.
“Melalui keheningan, kami ingin memasuk tahun baru saka dengan dunia yang bersih penuh kedamaian dan kecintaan,” tutur Ketua Panitia Hendrata Wisnu saat ditemui wartawan di sela-sela acara.

mkd

lowongan pekerjaan
PT.SEJATI CIPTA MEBEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Koes Plus dalam Peta Musik Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (08/01/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Jumat, 5 Januari 2018, Yon Koeswoyo tutup usia. Beberapa tahun sebelumnya…