Selasa, 16 Maret 2010 17:47 WIB News Share :

PBNU
Fatwa rokok cukup makruh

Jakarta–Sebagian ormas keagamaan dan ulama masih berbeda pandangan tentang fatwa rokok. Kalau Majelis Tarjih PP Muhammadiyah mengusulkan rokok haram, begitu juga Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tapi berbeda dengan kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang menyatakan hukum rokok itu makruh.

“Sebenarnya itu urusan dia (Muhammadiyah), kalau di NU tidak sampai haram, hanya makruh saja, kalau dilakukan tidak mendapatkan pahala, kalau ditinggalkan juga tidak dosa,” kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Bagdja kepada wartawan di Hotel Bintang, Jl Raden Saleh, Jakarta Pusat, Selasa (16/3/).

Bagdja menegaskan, tentang akan keluarnya fatwa haram rokok merupakan pandangan sebagaian ulama di Muhammadiyah. “Kita tidak mencampuri. Kita tidak bisa menilai, karena yang memungulkan usulan itu kan punya pandangan fiqih lainnya juga,” jelasnya.

Hanya saja, sebagian kalangan di NU tentang hukum merokok itu tidak mendatangkan pahala dan kebaikan dan nilai dalam perspektif keagamaan. Sebab perspektif keagamaan itu soal nilai ibadah dan pahala.

“Makanya NU berpendapat Makruh. Jadi kita tidak berbicara setuju atau tidak (soal haram rokok). Kalau hukumnya begitu, ya begitu,” tandasnya.

Seperti diketahui Majelis Tarjih PP Muhammadiyah menjadi berita setelah melansir fatwa haram rokok. Penggodokan fatwa itu bermula dari ide membuat Muktamar Muhammadiyah yang bertepatan dengan seabad Muhammadiyah pada Juli 2010, bebas dari asap rokok.

dtc/fid

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…