Selasa, 16 Maret 2010 14:48 WIB Kuliner Share :

Nasi jepang lebih lekat

Serupa orang Indonesia yang menjadikan nasi sebagai makanan pokok, orang Jepang juga menempatkan nasi pada peran penting dalam hidangan mereka. Namun, agak berbeda dengan tekstur nasi di Indonesia, nasi jepang memiliki tekstur yang lebih pulen dan saling melekat antarbutirnya.

Tekstur khas itu sesuai cara makan orang Jepang yang menggunakan sumpit sebagai alat bantu. Nasi yang pulen dan sedikit menggumpal lebih mudah dibentuk dan disumpit.

Menurut Chef Airu Sushi, Iwan, tekstur khas nasi jepang tak semata-mata dipengaruhi jenis beras. Cara mengolah juga berperan penting. “Mulai dari cara penyuciannya sudah harus diperhatikan. Beras harus ditiriskan dulu sebelum diberi dimasak,” katanya.

Selain itu, perbandingan campuran air dan beras juga punya pengaruh besar. Perbandingan terbaik adalah satu liter beras dengan sekitar 2,5 air. Dengan perbandingan itu, nasi yang dihasilkan lebih lembut namun bertekstur.

Sedikit berbeda dengan trik masak nasi yang diterapkan Airu Sushi, juru masak di Komachi dan Christo Bento menyebut tambahan sedikit ketan putih saat menanak adalah cara jitu mendapatkan nasi yang pulen dan menggumpal.

Masakan Jepang memang tak bisa lepas dari nasi. Tidak cukup menyajikan nasi terpisah sebagai pendamping aneka lauk dan sayur, para koki Jepang juga gemar menyajikan nasi dan lauk dalam satu menu.

Sebut saja sushi sebagai contoh. Sajian nasi yang dibentuk bulat pipih dan dipadukan dengan tambahan lauk di bagian atasnya. Satu sushi untuk sekali telan. Lalu ada pula menu onigiri atau nasi kepal. Nasi dibentuk seperti prisma segitiga. Di bagian dalamnya diberi tambahan lauk dan di luar ditempeli nori.

Nasi plus lainnya juga bisa dinikmati sebagai donburi. Menu ini cukup unik, lantaran mengombinasikan nasi pulen berbumbu dengan lauk yang diletakkan di bagian atas nasi.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas, Fetty Permatasari

lowongan pekerjaan
Perusahaan Outsourcing PLN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pilkada, Demokrasi, dan Hantu Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (17/01/2018) dengan judul Demokrasi Kita dan Hantu Politik. Esai ini karya Muhammad Fahmi, dosen di IAIN Surakarta dan Doktor Kajian Budaya dan Media. Alamat e-mail penulis adalah fahmielhalimy@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tahun 2018 sering dijuluki…